CONTOH SKRIPSI KUANTITATIF : PENGARUH MOTIVASI DAN DISIPLIN KERJA TERHADAP KINERJA PEGAWAI THL UPT RUSUNAWA (NON PNS) PADA KANTOR DINAS PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN KOTA TANGERANG
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian
Dalam perkembangan era
globalisasi yang terjadi saat ini memberikan
dampak yang signifikan bagi kelangsungan organisasi. Globalisasi telah menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan yang begitu cepat, sehingga menuntut organisasi untuk terus
beradaptasi dan berinovasi guna dapat mencapai
apa yang telah direncanakan, inginkan
dan menjadi tujuan bersama.
Sumber daya manusia merupakan penggerak utama jalannya kegiatan sebuah
organisasi, maju mundurnya suatu organisasi ditentukan oleh keberadaan sumber
daya manusianya. Sehingga sumber daya manusia atau pegawai dalam sebuah
organisasi menjadi perhatian penting dalam rangka usaha mencapai keberhasilan
organisasi. Keberhasilan suatu organisasi dalam mencapai tujuan organisasi
ditentukan oleh kinerja pegawai. Kemampuan pegawai mengerjakan pekerjaan yang
menjadi tanggung jawabnya menjadi tolok ukur pencapaian tujuan organisasi.
Apabila suatu organisasi mampu mencapai tujuan yang telah ditetapkan, maka
dapat dikatakan bahwa organisasi tersebut efektif. Seiring dengan berkembangnya
waktu, semua organisasi dituntut untuk dapat bersaing memberikan pelayanan yang
terbaik, termasuk organisasi pemerintah.
Pelayanan yang terbaik, tidak dapat dilepaskan dari peran setiap
pegawainya. Seorang pegawai harus bisa bekerja secara optimal dimana hal ini
dapat dilihat atau diukur melalui kinerja pegawai tersebut. Menurut Mangkunegara (2017), berpendapat bahwa kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai
dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
Kinerja yang baik adalah kinerja yang optimal, yaitu kinerja yang
sesuai standar organisasi dan mendukung tercapainya tujuan organisasi.
Peningkatan kinerja pegawai akan membawa kemajuan bagi instansi (organisasi)
untuk dapat bertahan dalam suatu persaingan yang tidak stabil. Kinerja pegawai
dipengaruhi oleh beberapa faktor baik yang berhubungan dengan tenaga kerja itu
sendiri maupun yang berhubungan dengan lingkungan perusahaan atau organisasi.
Wexley dan Yukl (2005), mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi
kinerja antara lain adalah motivasi dan disiplin kerja.
Menurut Mangkunegara (2013 : 94), motivasi
kerja adalah kondisi yang berpengaruh membangkitkan, mengarahkan, dan
memelihara perilaku yang berhubungan dengan lingkungan. Berdasarkan hasil
wawancara dengan pimpinan pegawai
rusunawa perumahan dan permukiman kota tangerang, pemberian motivasi yang dilakukan di perusahaan tersebut setiap
hari pagi britfing
sebelum melakukan pekerjaan dan sesudah melakukan
pekerjaan dalam bentuk evaluasi. Pemberian motivasi sangat penting
dalam setiap perusahaan. Karyawan
yang mempunyai motivasi kerja yang tinggi akan dapat mendorong karyawan tersebut
bekerja lebih semangat serta dapat
memberikan kontribusi positif terhadap
pekerjaan yang telah menjadi tanggung jawabnya. Motivasi sangat diperlukan oleh siapapun,
dalam hal ini karyawan sangat membutuhkan sesuatu yang mendorong untuk berbuat
lebih. Motivasi diberikan untuk menciptakan suatu hasil maksimal terkait
rasa syukur kesempatan untuk peningkatan harian.
Menurut penuturan Bapak Saepudin, Senior Pimpinan
Rusunawa perumahan dan permukiman , setiap karyawan
mempunyai motivasi yang berbeda-beda karena mereka berasal dari berbagai
latar belakang. Motivasi
pegawai tersebut dapat dilihat dari beberapa
hal, yang pertama adalah perilaku ,pegawai Rusunawa pada Perumahan Dan permukiman kota
tangerang belum bekerja dengan baik, seperti terlambat
datang, melalaikan pekerjaan yang menunjukkan bahwa pegawai tersebut bekerja tanpa rencana dan tujuan yang jelas
dan pelayanan yang kurang baik.
Motivasi pegawai juga dapat
dilihat dari usaha karyawan. Belum semua pegawai THL UPT Rusunawa
pada Perumahan Dan permukiman kota tangerang bekerja keras, ada beberapa karyawan yang
bekerja semampunya dan seadanya, sehingga pekerjaan yang dilakukan kurang
maksimal. Misalnya dalam pekerjaan, seorang karyawan tidak cukup hanya memilih
untuk selalu hadir tepat waktu,dan tidak cukup melakukan pelayanan kepada
masyarakat saja namun juga perlu dilihat keseriusan dan
kesungguhannya dalam bekerja.
Kegigihan karyawan juga bisa menandakan motivasi seseorang, seperti perilaku seseorang
yang tetap ingin bekerja walaupun adanya rintangan, masalah, dan halangan.
Dinas
Perumahan Dan Permukiman kota Tangerang adalah satu kesatuan sistem yang terdiri atas pembinaan,
penyelenggaraan perumahan, penyelenggaraan kawasan permukiman, pemeliharaan dan
perbaikan, pencegahan dan peningkatan kualitas terhadap perumahan kumuh dan
permukiman kumuh, penyediaan tanah, pendanaan dan sistem pembiayaan, serta
peran masyarakat. Dinas Perumahan Dan permukiman kota tangerang Memiliki 3 unit Rusun yang dihuni oleh masyarakat yang tersebar pada Kelurahan, Kecamatan, Kota Tangerang untuk Administrasi dan Pelayanan perumahan
Dan Permukimakan Kota
Tangerang. Namun dalam penelitian ini, dikarenakan sistem pengelolaan sumber daya manusia
(Pegawai THL UPT Rusunawa pada perumahan dan Perumikiman
Kota Tangerang (Non PNS) dikelola
ditingkat Kota Tangerang Administrasi, objek penelitian peneliti hanya Kinerja
pegawai THL UPT
Rusunawa pada dinas Perumahan Dan Permukiman Kota Tangerang.Salah satu faktor
yang diduga mempengaruhi kinerja adalah motivasi. Menurut Afandi (2018:23) “motivasi adalah keinginan yang timbul dari
dalam diri seseorang atau
individual karena terinspirasi, tersemangati, dan terdorong untuk melakukan
aktifitas dengan keikhlasan, senang hati dan sungguh-sungguh sehingga
hasil dari aktifitas
yang dilakukan mendapat
hasil yang baik dan berkualitas”. Sedangkan Hafidzi dkk (2019:52) menyatakan bahwa “motivasi adalah pemberian daya
penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang agar mereka mampu bekerjasama, bekerja efektif, dan
terintegritas dengan segala daya
upayanya untuk mencapai kepuasan”. Motivasi adalah suatu yang pokok yang menjadikan dorongan bagi seseorang
untuk bekerja. Berdasarkan pengertian diatas,
maka motivasi merupakan respon pegawai terhadap sejumlah pernyataan mengenai keseluruhan usaha yang timbul dari
dalam diri pegawai agar tumbuh dorongan untuk bekerja dan tujuan yang dikehendaki oleh pegawai tercapai.
Berdasarkan data Pra Survei
menunjukkan bahwa ada beberapa aspek yang belum mampu sepenuhnya dicapai oleh Pegawai
THL UPT Rusunawa (Non
PNS) Pada Dinas Perumahan
dan Permukiman Kota Tangerang terlihat dari menurunnya pencapaian, hal ini
dapat dilihat dari tabel berikut:
Tabel 1.1
Data
Motivasi Pegawai THL UPT Rusunawa (Non PNS) Pada Dinas Perumahan Dan Permukiman Kota Tangerang
Tahun 2019 s/d 2021
|
No. |
Faktor Penyebab Rendahnya Motivasi Kerja
Karyawan |
Jumlah Jawaban |
Presentase |
|
1 |
Tidak adanya kebutuhan berprestasi |
20 |
40,00% |
|
2 |
Tidak adanya
kebutuhan afiliasi |
16 |
32,00% |
|
3 |
Tidak adanya
kebutuhan kekuasaan |
14 |
28,00% |
|
TOTAL |
50 |
100% |
|
Sumber: UPT Rusunawa (Data Olah) Pada Dinas Perumahan Dan
Permukiman Kota Tangerang.
Berdasarkan tabel 1.1 di atas, peneliti menemukan fakta dapat dilihat
bahwa dari 50 responden tersebut
memilih jawaban mengenai faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya motivasi
mereka. Terlihat dari hasil responden Berdasarkan informasi tabel diatas, menunjukkan sebanyak 20 orang mengatakan bahwa menurunnya motivasi kerja pegawai
perumahan dan permukiman kota Tangerang karena tidak
adanya kebutuhan Prestasi dalam diri pegawai, sebanyak 16 orang mengatakan bahwa menurunnya motivasi kerja pegawai
perumahan dan permukiman Kota Tangerang karena tidak
adanya kebutuhan afiliasi dalam diri
pegawai. Sementara itu, sebanyak 14 orang mengatakan
bahwa menurunnya motivasi kerja karyawan karena tidak adanya kebutuhan
kekuasaan dalam diri pegawai.
Pentingnya motivasi kerja bagi suatu organisasi yakni sebagai faktor
pendorong pegawai. Setiap aktifitas
yang dilakukan seseorang pasti memiliki faktor yang mendorong aktifitas
tersebut. Oleh karena itu faktor pendorongnya adalah kebutuhan serta keinginan pegawai tersebut. Kinerja dapat dinilai dari motivasi kerja pegawainya.
Selain motivasi yang membuat rendahnya tingkat derajat kinerja pegawai
dalam suatu perusahaan dapat diduga dipengaruhi oleh disiplin kerja pegawai,
disiplin
adalah sikap kesediaan dan kerelaan seseorang untuk
mematuhi dan menaati norma-norma peraturan yang berlaku di sekitarnya (Menurut Singodimedjo
dalam Sutrisno (2016:86). Tanpa
disiplin pegawai yang baik, sulit bagi organisasi perusahaan atau instansi
mencapai hasil yang optimal. Seorang Pegawai yang mempunyai tingkat
kedisiplinan yang tinggi akan tetap bekerja dengan baik walaupun tanpa diawasi
oleh atasan, tidak akan mencuri waktu kerja untuk melakukan hal-hal lain yang
tidak ada kaitannya dengan pekerjaan, akan mentaati peraturan yang ada dalam
lingkungan kerja dengan kesadaran yang tinggi tanpa ada rasa paksaan.
Disiplin kerja dapat mempengaruhi kinerja pegawai, pernyataan ini
diperkuat dengan adanya pendapat dari Malayu S.P Hasibuan (2017) “Semakin baik
disiplin kerja seseorang, maka semakin tinggi hasil prestasi kerja (kinerja)
yang akan dicapai” Disiplin kerja
pegawai perumahan dan permukiman kota tangerang bisa dilihat dari tingkat kehadiran dan ketepatan waktu datang ke
kantor, Hal ini bisa dilihat dari
tingkat absensi yang dicapai. Metode absensi di
THL UPT Rusunawa pada kantor dinas perumahan
dan permukiman kota Tangerang menggunakan sidik jari
(finger), sehingga bisa tepat dan akurat dalam hal menilai kedisplinan para
pegawai.
Menurut Hasibuan (2016:193) “disiplin merupakan kesadaran dan kesediaan
seseorang mentaati semua peraturan instansi yang dibuat manajemen yang
mengingat anggota instansi agar dapat dijalankan semua pegawai, baik dengan
kesadaran sendiri maupun dengan paksaan.” Dalam pelaksanaan unsur disiplin
kerja yang diterapkan oleh pegawai dinas perumahan dan permukiman
Kota Tangerang, saat ini masih terbilang rendah dilihat
dari beberapa kasus seperti masih banyaknya pegawai yang mangkir kerja dengan
berbagai alasan , hingga masih ditemuinya pegawai yang mengabaikan tugas
pekerjaan yang diberikan oleh pimpinan. Diduga permasalahan tersebut diperkuat
dengan fakta data absensi atau kehadiran pegawai sebagai berikut
:
Tabel
1. 2
Daftar Kehadirahan Pegawai THL UPT Rusunawa (Non PNS)
Pada Dinas Peumahaan Dan Permukiman Kota Tangerang
Tahun 2019 s/d 2021
|
Tahun |
Jumlah Pegawai |
Jumlah Hari Kerja |
Absensi |
Jumlah |
Persentase (%) |
|||
|
Terlambat |
Izin |
Alpha |
sakithSakit j |
|||||
|
2019 |
50 |
296 |
18 |
21 |
15 |
10 |
64 |
21,62% |
|
2020 |
50 |
289 |
22 |
15 |
19 |
11 |
67 |
23,18% |
|
2021 |
50 |
290 |
18 |
33 |
15 |
10 |
76 |
26,20% |
Sumber :UPT Rusunawa Pada
Dinas Perumahan Dan Permukiman Kota Tangerang
Berdasarkan Tabel 1.2 dapat
dilihat bahwa pada tahun 2019 sampai 2021 menunjukkan fenomena menurunnya disiplin kerja pegawai. ketidakhadiran pegawai Ini terbukti
jumlah 4 absensi (kasus) pada tahun 2019 sebanyak 64 sehingga total dari beberapa aspek
persentasenya 21,62% , kemudian pada tahun 2020
naik sebanyak 67
kali jumlah kasus mencapai persentasenya 23,18% dan pada
tahun 2021 mengalami kenaikan lagi
berjumlah 76 sehingga persentasenya semakin meningkat hingga
26,20% Data ini menunjukkan bahwa tingkat kedisiplinan
pegawai yang dikategorikan tidak baik. Dengan total jumlah absensi (kasus) yang
meningkat selama tiga tahun tersebut, diduga disebabkan karena rendahnya
pengawasan pimpinan terhadap pegawai yang kurang efektif
dan kurang tegasnya pimpinan terhadap pegawainya,adanya pegawai yang merokok ditempat dilarang merokok pada area proyek yang dikerjakan
dan adanya pegawai yang sering terlambat dikarenakan perjalanan dari rumah ke
tempat kerja jauh dan sering terjadi kemacetan ketika masuk kerja. Kemudian adanya penggunaan jam istirahat
yang disalahgunakan untuk keperluan
lain sehingga membuat waktu masuk kembali kerja menjadi molor. Maka dari itu jam kerja mereka tidak dimanfaatkan dengan
baik sehingga hasil kerja mereka tidak maksimal.
Disiplin perlu dilakukan suatu
perusahaan agar para karyawan mentaati peraturan atau kebijakan yang dibuat
perusahaan. pegawai juga
mempunyai tanggung jawab untuk melaksanakan pekerjaan sebaik-baiknya, dapat
bertindak sesuai dengan norma-norma yang berlaku,
dan pegawai mampu menghasilkan
produktivitas yang tinggi sesuai dengan harapan perusahaan, baik dalam jangka
pendek maupun jangka panjang. Dengan karyawan mematuhi peraturan yang telah dibuat oleh perusahaan serta
mempunyai disiplin yang tinggi maka akan menciptakan suasana yang lebih
kondusif, sehingga akan berdampak positif pada aktivitas perusahaan. Oleh karena itu, setiap perusahaan mempunyai
harapan agar karyawan perusahaan dapat mematuhi peraturan yang telah
ditetapkan.
Kinerja merupakan hasil kerja
secara kualitas yang dapat dicapai oleh seorang karyawan dalam sebuah
perusahaan untuk melaksanakan tugas sesuai dengan tanggung jawab. Perusahaan
dituntut untuk selalu meningkatkan kinerja karyawan , agar perushaaan dapat
terus berkembang dalam mencapai tujuan perusahaan .
Menurut Sutrisno (2016:172) “Kinerja adalah hasil kerja karyawan dilihat dari aspek
kualitas, kuantitas, waktu kerja, dan kerja sama untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan oleh organisasi , dimana apabila motivasi kerja dan dsiplin kerja dapat berjalan dengan
baik maka kinerja karyawan pun akan meningkat.
Kenyataanya kinerja karyawan pada pegawai THL UPT Rusunawa Pada Kantor Dinas
Perumahan Dan Permukiman Kota Tangerang ini belum optimal
karena kurangnya tanggung jawab pegawai terhadap
pekerjaan yang mereka kerjakan , masih terdapat
pegawai yang mengobrol dengan
rekan kerja saat pada pelayanan
masyarakat atau di jam kerja
, terdapat pula karyawan yang diam-diam bermain
handphone di saat jam kerja masih berlangsung
dan target. Dan Kenyataan Pendapatan Upt Rusunawa Belum optimal karena di setiap
tahun targetnya berbeda- beda sehingga realisasinya tidak mencapai target.
Pendapatan
Upt Rusunawa sendiri adalah tolok ukur dari penilaian SDM,
dalam Pegawai Dinas Kantor Perumahan Dan Permukiman Kota
Tangerang, pendapatan penyewaan Upt Rusunawa ditunjukkan dalam Tabel 1.1 di bawah ini.
Tabel 1.3
Data
Target Dan Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD)
THL UPT
Rusunawa Kota Tangerang
Tahun
2019 S/D 2021
|
No. |
TAHUN |
TARGET PENYEWAAN RUSUNAWA |
REALISASI PENYEWAAN RUSUNAWA |
PROSEN |
|
1. |
2019 |
3.151.253.000 |
2.491.950.500 |
79.08 % |
|
2. |
2020 |
2.069.241.000 |
2.446.091.600 |
118.21 % |
|
3. |
2021 |
2.527.460.000 |
2.535.381.605 |
131 % |
Sumber :
UPT Rusunawa Pada Dinas Perumahan Dan
Permukiman Kota Tangerang
Berdasarkan Tabel 1.3 dapat dilihat bahwa Penyewaan
Pendapatan THL UPT Rusunawa pada Kantor
dinas Pegawai perumahan Dan Permukiman Kota Tangerang bahwa sejauh ini belum maksimal
mengalami naik turunnya pendapatan. Dari tahun 2019 s.d.
2021 total rata-rata persentase pendapatan masih belum tercapai. Pada tahun 2019 dimana
Target Pendapatan penyewaan rusun sebesar Rp.3.151.253.000 tetapi Realisasi
sebesar Rp.2.491.950.500 karena penghuni yang tidak membayar tepat waktu dan
mengalami keterlambatan pembayaran sehingga mendapatkan prosen 78.08% belum mencapai maksimal dan di tahun 2020 target
menurun di karenakan awalnya datangnya covid-19 sehingga sebesar Rp.2.069.241.000 dan Realisasi Rp. 2.446.091.600 sudah mencapai target dan mendapatkan
prosen 118.21 % dan pada tahun 2021
target pendapatan UPT Rusunawa Menaik sebesar 2.527.460.000 dan realisasinya sebesar 2.535.381.605 sehingga prosennya
mencapai 131 % selama satu tahun.
Dengan demikian
pencapaian pelayanan Kinerja UPT Rusunawa dapat
dikatakan belum efektif dan efisien, dimana kinerja pegawai pada UPT
Rusunawa terlihat belum optimal, seperti permasalahan pada
kualitas dan kuantitas pegawai dalam melaksanakan pekerjaannya, serta kemampuan
pegawai dalam memanfaatkan ketepatan waktu dalam menyelesaikan pekerjaannya.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan peneliti di
THL UPT Rusunawa Betet pada Dinas Perumahan
Dan Permukiman Kota Tangerang peneliti menemukan bahwa
kinerja pegawai THL UPT Rusunawa (NON PNS), yang ada di Dinas Perumahan Dan Permukiman Kota Tangerang. Saat ini masih belum dapat dikatakan baik karena cendrung menurun
dari setiap tahunnya.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kinerja pegawai yang belum maksimal
diduga disebabkan oleh faktor motivasi
dan disiplin kerja. Maka berdasarkan fenomena fakta data yang telah dipaparkan di atas, maka
penulis tertarik untuk melakukan
penelitian dengan judul : “Pengaruh Motivasi Dan Disiplin Kerja
Terhadap Kinerja Pegawai THL UPT Rusunawa (NON PNS) Pada Kantor Dinas Perumahan Dan
Permukiman Kota Tangerang.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan penjelasan pada latar belakang penelitian di atas, maka
rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1.
Apakah terdapat pengaruh motivasi terhadap kinerja pegawai THL
UPT Rusunawa (NON PNS) Pada Kantor Dinas Perumahan Dan Permukiman Kota
Tangerang ?
2.
Apakah terdapat pengaruh disiplin
kerja terhadap kinerja pegawai THL UPT Rusunawa (NON PNS) Pada Kantor Dinas
Perumahan Dan Permukiman Kota Tangerang ?
3.
Apakah terdapat pengaruh motivasi
dan disiplin kerja terhadap kinerja Pegawai THL UPT Rusunawa (NON PNS) Pada
Kantor Dinas Perumahan Dan Permukiman Kota Tangerang?
1.4 Tujuan Penelitian
Sejalan dengan rumusan masalah di atas, maka dapat dikemukakan tujuan
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.
Untuk mengetahui pengaruh motivasi
kerja terhadap kinerja pegawai THL UPT Rusunawa (NON PNS) Pada Kantor Dinas
Perumahan Dan Permukiman Kota Tangerang.
2.
Untuk mengetahui pengaruh disiplin
kerja terhadap kinerja pegawai THL UPT Rusunawa ( NON PNS) Pada Kantor Dinas
Perumahan Dan Permukiman Kota Tangerang .
3.
Untuk mengetahui pengaruh motivasi
dan disiplin kerja terhadap kinerja pegawai THL UPT Rusunawa ( NON PNS) Pada
Kantor Dinas Perumahan Dan Permukiman Kota Tangerang.
1.4 Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini secara teoritis diharapkan dapat memberikan sumbangan
pemikiran dalam memperkaya wawasan dan hasil penelitian dapat dipakai sebagai
bahan referensi bagi peneliti lain yang akan melakukan pengkajian di bidang
SDM.
2.
Manfaat Secara Praktis
a.
Hasil penelitian ini diharapkan
dapat memberi gambaran, diharapkan dapat memberikan informasi dan bahan
evaluasi bagi pegawai THL UPT Rusunawa untuk mengetahui seberapa berpengaruhnya motivasi kerja, dan disiplin
kerja terhadap kinerja pegawai pada UPT Rusunawa supaya
lebih kompetitif lagi, terutama dalam pengelolaan SDM beserta
kebijakan-kebijakannya.
b.
Bagi mahasiswa, diharapkan dapat
memberikan sumbangsih pengembangan ilmu di bidang manajemen sumber daya manusia
khususnya pada motivasi kerja dan disiplin kerja terhadap kinerja pegawai.
BAB
II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.1
Manajemen
2.1.1.1 Pengertian Manajemen
Manajemen berasal
dari kata to manage yang artinya mengatur. Pengaturan yang dilakukan melalui
proses dan di atur berdasarkan urutan dari fungsi-fungsi manajemen. Dalam
manajemen terdapat beberapa unsur manajemen yang terdiri dari man, methods,
materials, machine, and market. Supaya unsur-unsur manajemen tersebut lebih
berdaya, berhasil guna integrasi, dan terkoordinasi dalam mencapai tujuan yang
optimal, maka pimpinan perusahaan dengan wewenangnya sebagai pimpinan harus
bisa mengaturnya melalui proses dari urutan dan fungsi-fungsi manajemen yaitu
perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian.
Istilah manajemen
menurut Hasibuan (2016:1) berasal dari kata to manage yang artinya mengatur.
Apa yang diatur, apa tujuannya diatur, mengapa hasus diatur, siapa yang
mengatur, dan bagaimana mengaturnya.
a. Yang diatur adalah semua unsur manajemen, yakni 6M.
b. Tujuannya diatur adalah agar 6M lebih berdaya guna dan berhasil guna
dalam mewujudkan tujuan.
c. Harus diatur supaya 6M itu bermanfaat optimal, terkoordinasi dan
terintegrasi dengan baik dalam menunjang terwujudnya tujuan.
d. Yang mengatur adalah pimpinan dengan kepemimpinannya yaitu pimpinan
puncak, manajer madya, dan supervisi.
e. Mengaturnya adalah dengan melakukan kegiatan urut-urutan fungsi .
Menurut
Terry dalam Hasibuan (2016:2) mendefinisikan bahwa “manajemen merupakan suatu
proses atas kerangka kerja yang melibatkan bimbingan atau pengarahan suatu
kelompok orang-orang kearah tujuan-tujuan organisasi atau maksud-maksud yang
nyata”.
Menurut
Sikula dalam Hasibuan (2016:2) mendefinisikan bahwa “manajemen pada umumnya
dilakukan dengan aktivitas-aktivitas perencanaan pengorganisasian,
pengandalian, penempatan, pengarahan, pemotivasian, komunikasi, dan pengambilan
keputusan yang dilakukan oleh setiap organisasi dengan tujuan untuk mengorganisasikan
berbagai sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan seningga akan dihasilkan
suatu produk atau jasa secara efisien”.
Menurut
Hasibuan (2016:2) mendefinisikan bahwa “manajemen sebagai ilmu dan seni mengatur
proses pendayagunaan sumbe daya lainnya secara efisien, efektif, dan produktif
merupakan hal yang paling penting untuk mencapai suatu tujuan”.
Menurut
Wibowo (2016:3) mendefinisikan bahwa “manajemen adalah proses penggunaan sumber
daya organisasi dengan menggunakan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi
secara efisien dan efektif ”
Menurut Husaini
(2017:3) mendefinisikan bahwa “manajemen adalah perencanaan, pengorganisasian,
pengarahan dan pengendalian sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan secara
efektif dan efisien
Dari beberapa pengertian diatas, maka
dapat disimpulkan bahwa manajemen merupakan suatu proses yang dilakukan dengan
kegiatan perencanaan pengorganisasian, pengandalian, dan pengarahan dengan
tujuan untuk mengorganisasikan sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan secara
efektif dan efesien untuk mencapai suatu tujuan.
2.1.1.2Unsur usur Manajemen
Menurut Hasibuan
(2016:20) untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan diperlukan
alat-alat sarana (tools). Tools merupakan syarat suatu usaha untuk mencapai
hasil yang di tentukan. Tools tersebut dikenal dengan 6M, yaitu man, money,
materials, machines, methods, dan markets yaitu sebagai berikut.
a. Man (SDM) Dalam manajemen, faktor manusia adalah yang paling
menentukan. Manusia yang membuat tujuan dan manusia pula yang melakukan proses
untuk mencapai tujuan. Tanpa ada manusia tidak ada proses kerja, sebab pada
dasarnya manusia adalah makhluk kerja.
b. Money (uang) Uang merupakan satu unsur yang tidak dapat diabaikan. Uang
adalah alat tukar dan alat pengukur nilai. Besar-kecilnya hasil kegiatan dapat
diukur dari jumlah uang yang beredar dalam perusahaan. Oleh karena itu uang
merupakan alat yang penting untuk mencapai tujuan karena segala sesuatu harus
diperhitungkan secara rasional. Hal ini akan berhubungan dengan beberapa uang
yang harus disediakan untuk membiayai gaji tenaga kerja, alat-alat yang
dibutuhkan serta berapa hasil yang akan dicapai suatu organisasi.
c. Material (bahan) Material terdiri dari bahan setengah jadi (raw
material) dan bahan jadi. Dalam dunia usaha untuk mencapai hasil yang lebih
baik. Selain manusia yang ahli dalam bidangnya juga harus dapat menggunakan
bahan/materimateri sebagai salah satu sarana. Sebab materi dan manusia tidak
dapat dipisahkan, tanpa material tidak akan tecapai hasil yang dikehendaki.
d. Machines (mesin) Dalam kegiatan perusahaan, mesin sangat diperlukan.
Penggunaan mesin akan membawa kemudahan atau menghasilkan keuntungan yang besar
serta menciptakan efisiensi kerja.
e. Methods (metode) Dalam pelaksanaan kerja diperlukan metode-metode
kerja. Suatu tahapan kerja yang baik akan memperlancar jalannya pekerjaan.
Metode dinyatakan sebagai penetapan cara pelaksanaan kerja serta kegiatan
usaha. Perlu diingat meskipun metode baik, sedangkan orang yang melaksanakanya
tidak mengerti atau tidak mempunyai pengalaman maka hasilnya tidak akan
memuaskan. Dengan demikian, peranan utama dalam manajemen tetap manusianya
sendiri.
f. Market (pasar) Memasarkan produk suatu barang tentu sangat penting
sebab bila barang yang diproduksi tidak laku, maka proses produksi barang akan
berhenti.
artinya, proses kerja tidak akan berlangsung. Oleh sebab
itu, penguasaan pasar dalam arti menyebarkan hasil produksi merupakan faktor
menentukan dalam perusahaan. Agar pasar dapat dikuasai maka kualitas dan harga
barang harus sesuai dengan selera konsumen dan daya beli konsumen.
Malayu S.P Hasibuan (2016:1),
mengemukakan bahwa “manajemen berarti mengatur atau mengelola. Dengan pemaknaan
apa yang diatur, apa tujuannya diatur, mengapa harus diatur, siapa yang mengatur,
dan bagaimana mengaturnya”.
1.
Yang diatur adalah semua unsur
manajemen , yakni terdapat 6m : manusia (man),
material (materials), mesin (machine), metode (method), uang (money) dan
pasar (market).
2.
Tujuannya diatur adalah agar
unsur-unsur manajemen tersebut, lebih berdaya
guna dan berhasil guna dalam mewujudkan tujuan
organisasi
3.
Harus diatur supaya unsur-unsur
manajemen tersebut dapat bermanfaat secara optimal, terkoordinasi dan terintegrasi dengan baik dalam
menunjang terwujudnya tujuan organisasi.
4.
Yang mengatur adalah pimpinan
dengan kepemimpinannya, yaitu pimpinan
puncak, manajer madya, dan supervisi.
5.
Mengaturnya adalah dengan melakukan
kegiatan urut-urutan fungsi manajemen tersebut.
Manajemen merupakan suatu proses untuk mewujudkan tujuan yang diinginkan.
Manajemen sebagai ilmu pengetahuan, manajemen juga
bersifat universal dan mempergunakan kerangka ilmu pengetahuan yang sistematis. Ilmu pengetahuan manajemen dapat
diterapkan dalam semua bidang baik dari organisasi
manusia, perusahaan, pemerintah, pendidikan, sosial, keagamaan dan lain-lainnya.
Menurut
Anwar Prabu Mangkunegara (2013:2) mengemukakan bahwa “manajemen merupakan suatu
proses perencanaan, pengorganisasian ,pengkoordinasian, pelaksanaan, dan
pengawasan terhadap pengadaan, pengembangan, pemberian balas jasa,
pengintegrasian, pemeliharaan, dan pemisahan tenaga kerja dalam rangka mencapai
tujuan organisasi”. Sedangkan Stephen P. Robbins, Mary Coulter (2012:8)
mengemukakan bahwa “manajemen melibatkan koordinasi dan mengawasi aktivitas
kerja lainnya sehingga kegiatan mereka selesai dengan efektif dan efisien. Arti
dari efisien itu sendiri adalah mendapatkan hasil output terbanyak dari input
yang seminimal mungkin, sedangkan efektif adalah “melakukan hal yang benar”, yaitu
melakukan sebuah pekerjaan yang dapat membantu organisasi mencapai tujuannya”.
Menurut
Abdul Choliq (2011:3) “manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian,
pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota dan penggunaan sumber
daya-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah
ditetapkan”.
Berdasarkan
dari beberapa definisi yang dikemukakan beberapa ahli diatas maka dapat
disimpulkan bahwa manajemen adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang proses
mengatur sumber daya manusia dan sumber daya lainnya, dengan menerapkan
fungsi-fungsi yang ada dalam organisasi yaitu mulai dari proses perencanaan,
pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan-kegiatan dalam suatu
organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara efektif dan
efisien.
2.1.1.3Fungsi Manajemen
Fungsi manajemen adalah elemen-elemen
dasar yang akan selalu ada dan melekat di dalam proses manajemen yang akan
dijadikan acuan oleh manajer dalam melaksanakan kegiatan untuk mencapai tujuan.
Menurut Hasibuan (2016: 38), fungsi inti dari manajemen mencakup:
a) Planning (perencanaan) Sebagai dasar pemikiran dari tujuan dan
penyusunan langkah-langkah yang akan dipakai untuk mencapai tujuan.Merencanakan
berarti mempersiapkan
segala kebutuhan, memperhitungkan matang-matang apa saja yang menjadi kendala,
dan merumuskan bentuk pelaksanaan kegiatan yang bermaksud untuk mencapai tujuan
dan mengembangkan rencana untuk mengintegrasikan dan mengkoordinasikan
aktivitas.
b) Organizing (pengorganisasian) Sebagai cara untuk mengumpulkan
orang-orang dan menempatkan mereka menurut kemampuan dan keahliannya dalam
pekerjaan yang sudah direncanakan.
c) Actuating (penggerakkan) Untuk menggerakan organisasi agar berjalan
sesuai dengan pembagian kerja masing-masing serta menggerakan seluruh sumber daya yang ada
dalam organisasi
agar pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan bisa berjalan sesuai rencana dan
bisa mencapai tujuan.
d) Controlling (pengendalian) Untuk mengawasi apakah gerakan dari
organisasi ini sudah sesuai dengan rencana atau belum. Serta mengawasi
penggunaan sumber daya dalam organisasi agar bisa terpakai secara efektif dan
efisien tanpa
ada yang melenceng dari rencana.
2.1.1.4Dasar – Dasar Manajemen
Dasar-dasar
manajemen menurut Malayu Hasibuan ( 2018 : 2 ) ialah sebagai berikut :
1.
Adanya kerja sama diantara
sekelompok orang dalam ikatan formal.
2.
Adanya tujuan bersama serta
kepentingan yang sama yang akan dicapai.
3.
Adanya pembagian kerja, tugas , dan
tanggung jawab yang teratur.
4.
Adanya hubungan formal dan ikatan tata
tertib yang baik.
5.
Adanya sekelompok orang dan
pekerjaan yang akan dikerjakan dan adanya human organization.
Menurut Marno Dan Triyo (2013), ada
beberapa unsur yang perlu dipahami dalam proses pengawasan, yakni;
1.
Adanya proses dalam menetapkan
kegiatan yang telah dan akan dilaksanakan.
2.
Merupakan alat untuk memerintahkan orang lain bekerja
untuk mencapai sasaran organisasi yang ingin di capai.
3.
Memonitor, menilai dan mengkoreksi
pelaksanaan kegiatan.
4.
Menghindari dan melakukan perbaikan
atas kesalahan , penyimpangan atau penyalahgunaan.
5.
Mengukur efektifitas dan efisiensi kegiatan.
2.1.2
Manajemen Sumber Daya Manusia
2.1.2.1Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia
Manajemen sumber daya manusia adalah
suatu kegiatan pengelolaan yang meliputi pendayagunaan, pembangunan, penilaian,
pemberian balas jasa bagi manusia sebagai individu anggota organisasi atau
perusahaan bisnis. Manajemen sumber daya manusia dapat didefinisikan pula
sebagai suatu pengolahan dan pendayagunaan yang ada pada individu (karyawan).
Pengelolaan dan pendayagunaan tersebut dikembangkan secara maksimal didalam
dunia kerja untuk mencapai tujuan organisasi dan pengembangan individu
karyawan. Agar pengertian sumber daya manusia ini lebih jelas, di bawah ini
dirumuskan dan dikutip definisi yang dikemukakan oleh para ahli adalah sebagai
berikut.
Menurut Mangkunegara (2013:2) “manajemen
sumber daya manusia merupakan suatu perencanaan pengorganisasian, pengkoordinasian,
pelaksanaan, dan pengawasan terhadap pengadaan, pengembangan, pemberian balas
jasa, pengintegrasian, pemeliharaan, dan pemisahan tenaga kerja dalam rangka
mencapai tujuan organisasi”.
Menurut Desler dalam Sutrisno (2016:5)
“manajemen sumber daya manusia adalah sebagai suatu kebijakan dan praktik yang
dibutuhkan yang menjalankan aspek atau sumber daya manusia dari posisi seorang
manajemen, meliputi perekrutan, pelatihan, pengimbalan, dan penilaian”.
Menurut Simamora dalam Sutrisno (2016:5)
“manajemen sumber daya manusia adalah pendayagunaan, pengembangan, penilaian,
pemberian balas jasa, dan pengelolaan individu anggota organisasi atau kelompok
pekerja”.
Menurut Stoner dalam Sutrisno (2016:5)
“manajemen sumber daya manusia meliputi penggunaan SDM secara produktif dalam
mencapai tujuantujuan organisasi dan pemuasan kebutuhan pekerja seacara
individual”.
Dari definisi di atas penulis
menyimpulkan bahwa manajemen sumber daya manusia adalah suatu proses kegiatan
manusia atau karyawan dalam perusahaan atau organisasi sebagai bentuk
pendayagunaan, pemberian balas jasa dalam mengatur, mengelola sampai pada
pengevaluasian atas setiap kegiatan yang ada didalam organisasi.
2.1.2.2Tujuan Manajemen Sumber
Daya Manusia
Tujuan manajemen
sumber daya manusia menurut Cushway Dalam Edy Sutrisno (2016:7), tujuan msdm
meliputi:
1.
Memberi pertimbangan manajemen
dalam membuat kebijakan sdm untuk memastikan
bahwa organisasi memiliki
pekerja yang bermotivasi dan berkinerja yang
tinggi, memiliki pekerja yang selalu
siap mengatasi perubahan dan memenuhi kewajiban pekerjaan secara legal.
2.
Mengimplementasikan dan menjaga
semua kebijakan dan prosedur sdm yang memungkinkan organisasi mampu mencapai tujuannya.
3.
Membantu dalam pengembangan arah
keseluruhan organisasi dan strategi, khususnya yang berkaitan dengan implikasi sdm.
4.
Memberi dukungan dan kondisi yang
akan membantu manajer lini mencapai
tujuannya.
5.
Menangani berbagai krisis dan
situasi sulit dalam hubungan antar pekerja untuk meyakinkan bahwa mereka tidak
menghambat organisasi dalam mencapai tujuannya.
6.
Menyediakan media komunikasi antara
pekerja dan manajemen organisasi.
7.
Bertindak sebagai pemelihara
standar organisasional dan nilai dalam manajemen sdm
2.1.2.3
Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia
Menurut Fayol (2017:20) Fungsi manajemen
sumber daya manusia yang dimaksud adalah sebagai berikut.
a. Perencanaan Perencanaan adalah kegiatan memperkirakan tentang keadaan tenaga
kerja, agar sesuai dengan kebutuhan organisasi secara efektif dan efisien,
dalam membantu terwujudnya tujuan. Perencanaan itu untuk menetapkan program
kekaryawanan ini, meliputi pengorganisasian, integrasi, pemeliharaan,
kedisiplinan, dan pemberhentian karyawan.
b. Pengorganisasian Pengorganisasian adalah kegiatan untuk mengatur
karyawan dengan menetapkan pembagian kerja, hubungan kerja, delegasi wewenang,
integrasi, dan koordinasi dalam bentuk bagan organisasi. Organisasi adalah alat
untuk mencapai tujuan.
c. Pengarahan Pengarahan adalah kegiatan memberi petunjuk pada karyawan,
agar mau bekerja sama, dan bekerja efektif serta efisien, dalam membantu
tercapainya tujuan organisasi. Pengarahan dilakukan oleh pimpinan yang dengan
kepemimpinannya akan memberi arahan kepada karyawan agar mengerjakan semua
tugasnya dengan baik.
d. Pengendalian Pengendalian merupakan kegiatan mengendalikan karyawan
agar menaati peraturan organisasi dan bekerja sesuai dengan rencana. Bila
terdapat penyimpangan diadakan tindakan perbaikan dan penyempurnaan.
e. Pengembangan Pengembangan merupakan proses peningkatan keterampilan
teknis, teoritis, konseptual, dan moral karyawan melalui pendidikan dan
pelatihan. Pendidikan dan pelatihan yang diberikan, hendaknya sesuai dengan
kebutuhan pekerjaan masa kini maupun masa yang akan mendatang.
f. Kompensasi Kompensasi merupakan pemberian balas jasa langsung berupa
uang atau barang kepada karyawan sebagai imbalan jasa yang diberikan kepada
organisasi. Prinsip kompensasi adalah adil dan layak.
g. Pengintegrasian Pengintegrasian adalah kegiatan untuk mempersatukan
kepentingan organisasi dan kebutuhan karyawan, agar tercipta kerja sama yang
serasi dan saling menguntungkan. Disatu pihak organisasi memperoleh
keberhasilan dan keuntungan. Sedangkan karyawan dapat memenuhi kebutuhan dari
hasil pekerjaannya.
h. Pemeliharaan Pemeliharaan merupakan kegiatan pemeliharaan atau
meningkatkan kondisi fisik, mental dan loyalitas, agar mereka tetap mau bekerja
sama hingga pensiun.
i. Kedisiplinan Kedisiplinan merupakan salah satu fungsi manajemen sumber
daya manusia yang penting dan merupakan kunci terwujudnya tujuan organisasi,
karena tanpa adanya kedisiplinan, maka sulit mewujudkan tujuan yang maksimal.
j. Pemberhentian Pemberhentian merupakan putusnya hubungan kerja seseorang
karyawan dari satu organisasi. Pemberhentian ini disebabkan oleh keinginan
karyawan, keinginan organisasi, berakhirnya kontrak kerja, pensiun, terkena
kasus pidana atau lainnya.
2.1.2.4
Peranan Manajamen Sumber Daya Manusia
Manajemen
adalah fungsi yang berhubungan dengan mewujudkan hasil tertentu melalui
kegiatan orang-orang. Hal ini berarti bahwa sumber daya manusia berperan
penting dan dominan dalam manajemen.
Menurut Rivai
(2014:14) “Peran manajemen sumber daya manusia dalam menjalankan aspek MSDM, harus
dikelola dengan baik sehingga kebijakan dan praktik dapat berjalan sesuai
dengan yang diinginkan perusahaan”. yang meliputi kegiatan antara lain:
1.
Melakukan analisis jabatan (menetapkan karakteristik pekerjaan masing-
masing SDM).
2.
Merencanakan kebutuhan tenaga kerja
dan merekrut calon pekerja.
3.
Memberikan pengenalan dan
penempatan pada karyawan baru.
4.
Menetapkan upah, gaji, dan cara
memberikan kompensasi.
5.
Memberikan insentif dan kesejahteraan.
6.
Melakukan evaluasi kinerja.
7.
Mengomunikasikan, memberi penyuluhan,
menegakkan disiplin kerja.
8.
Memberikan pendidikan, pelatihan
dan pengembangan.
9.
Membangun komitmen kerja.
10.
Memberikan keselamatan kerja.
11.
Memberikan jaminan kesehatan.
12.
Menyelesaikan perselisihan perburuhan.
13.
Menyelesaikan keluhan dan
(relationship) karyawan.
2.1.3
Motivasi Kerja
2.1.3.1 Pengertian Motivasi
Menurut Menurut Afandi (2018:23)
“motivasi adalah keinginan yang timbul dari dalam diri seseorang atau individu
karena terinspirasi, tersemangati, dan terdorong untuk melakukan aktivitas
dengan keikhlasan, senang hati, dan sungguh-sungguh sehingga hasil dari
aktifitas yang dia lakukan mendapat hasil yang baik dan berkualitas”. Hasibuan
berpendapat (2019:111) “motivasi adalah pemberian daya penggerak yang
menciptakan kegairahan kerja seseorang, agar mereka mau bekerjasama, bekerja
efektif, dan terintegrasi dengan segala daya upayanya untuk mencapai kepuasan”.
Sedangkan menurut Sedarmayanti (2017:154) “motivasi merupakan kekuatan yang
mendorong seseorang untuk melakukan suatu tindakan atau tidak yang pada
hakikatnya ada secara internal dan eksternal posotif atau negarif, motivasi
kerja adalah suatu yang menimbulkan dorongan atau semangat kerja atau pendorong
semangat kerja”.
Berdasarkan definisi motivasi dari para
ahli diatas, penulis memahami bahwa motivasi adalah keinginan yang timbul, dan
menjadi daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang sehingga
Kondisi jiwanya mendorong seseorang dalam mencapai prestasinya secara maksimal,
berkualitas, juga memuaskan bagi dirinya.
2.1.3.2 Teori Motivasi
Berikut ini beberapa teori motivasi yang sering terjadi kepada pegawai atau seseorang yaaitu :
A. Hierarki Teori Kebutuhan
(hierarchial of need theory)
Teori motivasi Maslow dinamakan “a theory of human motivation“, Teori ini
mengikuti teori jamak, yakni seseorang berperilaku dan bekerja karena adanya
dorongan untuk memenuhi bermacam-macam kebutuhan. Teori motivasi yang
dikembangkan oleh Abraham Maslow menyatakan bahwa setiap diri manusia itu
sendiri dari atas tingkat atau hirarki kebutuhan yaitu :
1. Kebutuhan psikologis
(physiological needs), yaitu kebutuhan untuk makan, minum, perlindungan fisik,
bernafas, sexsual. Kebutuhan ini merupakan kebutuhan tingkat rendah atau
disebut pula kebutuhan yang paling dasar.
2. Kebutuhan rasa aman (safety
needs), yaitu kebutuhan akan perlindungan dari ancaman, bahaya, pertentangan
dari lingkungan hidup, tidak dalam arti fisik semata akan tetapi juga mental,
psikologikal dan intelektual.
3. Kebutuhan sosial (social
needs), yaitu kebutuhan untuk di terima dalam kelompok, berinteraksi, dan
kebutuhan untuk mencintai dan dicintai.
4. Kebutuhan akan harga diri
atau pengakuan (esteem needs), yaitu kebutuhan untuk menggunakan kemampuan,
skill, potensi, kebutuhan berpendapat dengan mengemukakan dengan ide-ide,
memberikan penilaian kritik terhadap sesuatu.
B. Teori Kebutuhan Berprestasi
(McClelland theory of needs)
Menurut David McClelland dalam Susanto dkk. (2018:184)
dikenal dengan teori kebutuhan untuk mencapai prestasi yang menyatakan bahwa
“motivasi berbeda-beda sesuai dengan kekuatan kebutuhan seseorang akan
berprestasi”. Sebagaimana yang dikutip oleh Winardi (2017) merumuskan kebutuhan
akan pegawai tersebut sebagai keinginan yang melaksanakan suatu tugas atau
pekerjaan yang sulit. Menurut McClelland karakteristik orang yang berprestasi
tinggi memiliki tiga ciri yaitu:
1) Sebuah prefensi untuk
mengerjakan tugas-tugas dengan derajat kesulitan moderat.
2) Menyukai situasi-situasi
dimana kinerja mereka timbul karena upaya-upaya mereka sendiri bukan karena
faktor lain.
3)
Menginginkan umpan balik tentang keberhasilan dan kegagalan
mereka dibandingkan dengan mereka yang berprestasi rendah.
C.
Teori Herzberg (Teori Dua Faktor)
Teori yang dikenal dengan 2 (dua) model faktor dari motivasi,
yaitu faktor motivasional dan faktor pemeliharaan, faktor motivasional adalah
hal-hal yang mendorong berprestasi yang sifatnya intrincik yang berarti
bersumber dari dalam diri seseorang, sedangkan faktor pemeliharaan adalah
faktor-faktor yang sifatnya ekstrinsik yang berarti bersumber dari luar diri
yang turut menentukan perilaku seseorang dalam kehidupan seseorang. Salah satu
tantangan dalam memahami dan menerapkan teori Herzberg adalah mempertimbangkan
dengan tepat faktor mana yang lebih berpengaruh kuat dalam kehidupan seseorang
apakah yang bersifat intrinsik dan ekstrinsik.
D.
Teori Keadilan Inti
teori ini terletak pandangan bahwa manusia terdorong untuk
menghilangkan kesenjangan antar usaha yang dibuat bagi kepentingan organisasi
dengan imbalan yang diterima. Pemeliharaan hubungan dengan pegawai dalam kaitan
ini berarti bahwa pejabat dan tugas dibagian kepegawaian harus selalu waspada
jangan sampai persepsi ketidak adilan timbul yang akan berdampak negatif pada
organisasi.
2.1.3.3 Jenis-jenis motivasi
Menurut Hasibuan (2016:150) dalam manajemen sumber daya manusia, ada
beberapa jenis motivasi yaitu:
a. Motivasi positif
Motivasi positif Adalah suatu pemberian motivasi atau usaha
membangkitkan motivasi, dimana hal ini diarahkan pada usaha untuk mempengaruhi
orang lain agar dia bekerja dengan baik dan antusias, dengan cara memberikan
keuntungan tertentu kepada orang tersebut. Motivasi dapat diwujudkan dengan
bentuk gaji yang menarik, informasi tentang pekerjaan, promosi jabatan, pujian
dari pimpinan, situasitempat kerja yang kondusif, kompensasi, dan lain – lain.
b. Motivasi
Negatif
Motivasi
negatif Merupakan jenis motivasi yang bersumber dari rasa takut, misal jika
seorang karyawan sering tidak hadir dalam pekerjaan, akan muncul rasa takut
dikeluarkan dari tempat ia bekerja, khawatir jumlah penghasilan akan dikurangi
dan lain–lain. Hal ini harus dihindari karena motivasi negatif yang berlebihan
akan mengganggu jalannya suatu perusahaan.
c. Motivasi dari dalam
Motivasi
dari dalam merupakan motivasi yang berasal dari dalam diri pegawai, jadi
motivasi ini bersumber dari dalam diri sesorang dalam memenuhi tugas dan
tanggung jawabnya sebagai karyawan.
d. Motivasi
dari luar
Motivasi
dari luar Merupakan jenis motivasi yang muncul sebagai akibat adanya pengaruh
yang berasal dari luar pekerjaan dan dari luar diri karyawan itu sendiri.
Motivasi dari luar biasanya dikaitkan dengan imbalan, tunjangan kesehatan,
cuti, program rekreasi organisasi atau perusahaan dan lainlain. Dalam kontek
ini karyawan diposisikan sebagai subjek yang dapat didorong oleh bentuk motivasi dari luar seperti
yang sudah disebutkan diatas.
2.1.3.4 Prinsip Motivasi
Menurut Mangkunegara
(2017:88) “terdapat beberapa prinsip dalam memotivasi kerja karyawan yaitu :
a. Prinsip Partisipasi
Dalam upaya memotivasi kerja, karyawan
perlu diberikan kesempatan ikut berpartisipasi dalam menentukan tujuan yang
akan dicapai oleh pemimpin.
b. Prinsip Komunikasi
Seorang pemimpin mengkomunikasikan segala
sesuatu yang berhubungan dengan usaha pencapaian tugas dan informasi yang
jelas, pegawai akan lebih mudah dimotivasi kerjanya.
c. Prinsip Mengakui Adil Karyawan
Pemimpin mengakui bahwa karyawan
mempunyai adil didalam usaha pencapaian tujuan. Dengan pengakuan tersebut
pegawai akan lebih mudah dimotivasi kerjanya.
d. Prinsip Pendelegasian
Wewenang Pemimpin memberikan otoritas
atau wewenang kepada karyawan untuk dapat sewaktu-waktu mengambil keputusan
terhadap pekerjaan yang dilakukannya akan membuat karyawan yang bersangkutan
menjadi termotivasi untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
e. Prinsip Pemberian
Perhatian Memberikan perhatian terhadap
apa yang diinginkan karyawan tentunya akan memotivasi pegawai bekerja sesuai
harapan”.
2.1.3.5
Indikator Motivasi
Menurut Indikator motivasi menurut David McClelland dalam Susanto dkk. (2018:187)
antara lain:
a. The Need For Achievement
(n-Ach) (Kebutuhan akan Prestasi)
Kebutuhan akan prestasi merupakan
dorongan untuk mengungguli, berprestasi dan berhubungan dengan seperangkat
standar dan
bergulat untuk sukses. Kebutuhan ini pada hierarki Maslow terletak antara
kebutuhan akan penghargaan dan kebutuhan akan aktualisasi diri. Ciri-ciri
individu yang menunjukan orientasi tinggi, keinginan untuk mendapatkan
umpanbalik tentang hasil kerja mereka, keinginan mendapatkan tanggung jawab
pemecahan masalah. (n-Ach) adalah motivasi untuk berprestasi, karna itu
karyawan akan berusaha mencapai prestasi tertingginya, pencapaian tujuan
tersebut bersifat realistis tetapi menantang, dan kemajuan dalam pekerjaan.
Karyawan perlu mendapatkan umpan balik dari lingkungannya sebagai bentuk
pengakuan terhadap prestasinya tersebut.
b. The Need For Power (n-Pow) (Kebutuhan akan Kekuasaan)
Kebutuhan akan kekuasaan adalah
kebutuhan untuk membuat orang lain berprilaku dalam suatu cara dimana
orang-orang itu tanpa dipaksa tidak akan berprilaku demikian atau suatu bentuk
ekspresi dari individu untuk mengendalikan dan mempengaruhi orang lain.
Kebutuhan ini pada teori Maslow terletak antara kebutuhan akan penghargaan dan
kebutuhan aktualisasi diri. McClelland menyatakan bahwa kebutuhan akan
kekuasaan sangat berhubungan dengan kebutuhan untuk mencapai suatu posisi
kepemimpinan. (n-Pow) adalah motivasi terhadap kekuasaan. Karyawan memiliki
motivasi untuk berpengaruh terhadap lingkungannya, memiliki karakter kuat untuk
memimpin dan memiliki ide-ide untuk menang. Ada juga motivasi untuk peningkatan
status dan prestos pribadi.
c. The Need For Affiliation
(n-Aff) (Kebutuhan untuk Berafiliasi atau bersahabat)
Kebutuhan akan afiliasi adalah hasrat
untuk berhubugan antar pribadi yang ramah dan akrab. Individu merepleksikan
keinginan untuk mempunyai hubungan yang erat, kooperatif dan penuh sikap
persahabatan dengan pihak lain. Individu yang mempunyai kebutuhan afiliasi yang
tinggi umumnya berhasil dalam pekerjaan yang memerlukan interaksisosial yang
tinggi.
Adapun Keterkaitan Antar Variabel Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah
ingin mengetahui pengaruh motivasi
kerja dan disiplin kerja terhadap kinerja pegawai, maka dapat
dianalisis keterkaitan antar variabel sebagai berikut:
A. Keterkaitan Antara Motivasi Kerja terhadap Kinerja Pegawai
Motivasi merupakan variabel penting, yang dimana motivasi perlu mendapat perhatian yang besar pula bagi organisasi dalam
peningkatan kinerja pegawainya. Motivasi kerja
adalah dorongan atau semangat yang timbul dalam diri seseorang
atau pegawai untuk melakukan sesuatu atau bekerja, karena adanya rangsangan
dari luar baik itu dari atasan dan lingkungan kerja, serta adanya dasar untuk
memenuhi kebutuhan dan rasa puas, serta memenuhi tangung jawab atas tugas-tugas
yang diberikan dan dilakukan dalam
organisasi. Motivasi kerja merupakan sesuatu yang menimbulkan dorongan atau
semangat kerja atau pendorong semangat kerja.
Motivasi adalah daya pendorong atau tenaga pendorong yang mendorong manusia untuk
bertindak atau suatu tenaga di dalam diri manusia yang menyebabkan manusia
bertindak (Ardana, dkk, 2012:193).
Motivasi membicarakan tentang bagaimana
cara mendorong semangat
kerja seseorang, agar mau bekerja
dengan memberikan secara optimal kemampuan keahlian dan
waktunya untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan yang menjadi tanggung
jawabnya dan menunaikan kewajibannya dalam rangka pencapaian tujuan dan
berbagai sasaran organisasi yang telah ditentukan sebelumnya dan motivasi
adalah penggerak dan yang menjaga kita agar tetap bergerak meraih sukses. Menurut Berelson dan
Steiner motivasi merupakan suatu usaha sadar untuk mempengaruhi perilaku seseorang supaya mengarah tercapainya suatu tujuan
organisasi (Sunyoto, 2012:11).
B.
Keterkaitan Antara Disiplin Kerja
terhadap Kinerja Pegawai
Disiplin kerja merupakan hal yang
menentukan dalam peningkatan kualitas
kerja pegawai, dengan kedisiplinan akan mengontrol kearah yang lebih baik.
Disiplin kerja merupakan suatu alat yang digunakan
para manajer untuk berkomunikasi
dengan karyawan agar mereka bersedia untuk mengubah suatu prilaku serta sebagai
suatu upaya untuk meningkatkan kesadaran dan kesediaan seseorang menaati semua
peraturan perusahaan dan norma-norma sosial yang berlaku (Rivai dan Sagala,
2009:824).
Untuk mewujudkan kedisiplinan dibutuhkan
pemimpin yang baik dan sesuai dengan
keinginan pegawai, karena pemimpin perusahaan atau manajer merupakan seseorang
yang menentukan berhasil atau tidaknya suatu
perusahaan, karena pemimpin merupakan penggerak dari seluruh kegiatan perusahaan.
2.1.4
Disiplin Kerja
2.1.4.1
Pengertian
Disiplin
Menurut Pengertian Disiplin Kerja
Disiplin merupakan arahan untuk melatih dan membentuk seseorang melakukan
sesuatu menjadi lebih baik. Disiplin adalah suatu proses yang dapat menumbuhkan
perasaan seseorang untuk mempertahankan dan meningkatkan tujuan organisasi
secara objektif, melalui kepatuhannya menjalankan peraturan organisasi.
Menurut Handoko (2014:208), menyatakan
bahwa “Disiplin adalah kegiatan manajemen untuk menjalankan standar-standar
organisasi karena merupakan salah satu sikap yang harus dimiliki setiap
karyawan.” Selanjutnya, menurut Hasibuan (2017:193), menyatakan “Disiplin kerja
adalah kesadaran dan kesediaan seseoran menaati semua peraturan perusahaan dan
norma-norma sosial yang berlaku”.
Menurut Sutrisno (2016:89), menyatakan
”Disiplin adalah perilaku seseorang yang sesuai dengan peraturan, prosedur
kerja yang ada atau disiplin adalah sikap, tingkah laku dan perbuatan yang sesuai
dengan peraturan dari organisasi baik tertulis maupun tidak tertulis”. Dari
beberapa pendapat diatas maka penulis dapat memahami bahwa disiplin kerja
adalah sikap atau kesediaan seseorang untuk taat dan patuh terhadap aturan yang berlaku
dalam suatu organisasi.
2.1.4.2
Bentuk-Bentuk Disiplin Kerja
Menurut Mangkunegara
Prabu (2013:129) ada 2 bentuk disiplin kerja, yaitu disiplin preventif, dan
disiplin korektif yaitu :
1.
Disiplin preventif Disiplin
preventif adalah suatu upaya untuk menggerakkan pegawai mengikuti dan mematuhi
pedoman kerja, aturan-aturan yang telah digariskan oleh perusahaan. Tujuan
dasarnya adalah untuk menggekan pegawai dapat memelihra dirinya terhadap
peraturan-peraturan perusahaan.
2.
Disiplin korektif Disiplin
korektif adalah suatu upaya menggerakkan pegawai dalam menyatuhkan suatu dan
mengarahkan untuk tetap mematuhi peraturan sesuai dengan pedoman yang berlaku
pada perusahaan. Pada disiplin korektif, pegawai yang melanggar disiplin perlu
diberikan sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku. Tujuan pemberian sanksi
adalah untuk memperbaiki pegawai pelanggar, memelihara peraturan yang berlaku,
dan memberikan pelajaran kepada pelanggar.
2.1.4.3 Karakteristik Kedisiplinan
Menurut
Evanita (2013), seseorang atau sekelompok orang dapat dikatakan melaksanakan
dsiplin apabila seseorang atau sekelompok orang tersebut:
1.
Dapat menunjukkan kesetiaan dan ketaatannya terhadap
aturanaturan yang berlaku bagi sebuah organisasi.
2.
Dapat menunjukkan kesetiaan dan ketaatannya terhadap
norma-norma yang berlaku bagi sebuah organisasi tersebut.
3.
Dapat menunjukkan kesetiaan dan kekuatannya dalam
melaksanakan instruksiinstruksi yang dibuat oleh pimpinan.
2.1.4.4 Faktor-faktor yang
Memengaruhi Disiplin Kerja
Menurut Singodimedjo dalam Sutrisno
(2016:89), mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi disiplin kerja adalah:
a.
Besar kecilnya pemberian
kompensasi Besar kecilnya kompensasi dapat mempengaruhi tegaknya
disiplin kerja. Karyawan yang menerima kompensasi yang sesuai akan dapat bekerja dengan
tekun, serta selalu berusaha bekerja dengan baik.
b.
Ada tidaknya keteladanan pimpinan
dalam perusahaan Keteladanan pimpinan sangat penting karena dalam lingkungan
perusahaan seorang pimpinan akan salalu diperhatikan oleh karyawannya dalam
menegakkan kedisiplinan.
c.
Ada tidaknya aturan pasti yang
dapat dijadikan pegangan Pembinaan disiplin akan terlaksana apabila terdapat
aturan tertulis yang pasti dan dijadikan pegangan bersama. Disiplin tidak
mungkin dilakukan apabila peraturan hanya dibuat berdasarkan instruksi lisan
yang dapat berubah sesuai dengan kondisi dan situasi.
d.
Keberanian pimpinan dalam
mengambil tindakan Keberanian pimpinan sangat diperlukan dalam mengambil
tindakan ketika seorang karyawan yang melanggar akan dikenakan sanksi sesuai
dengan tingkat pelanggaran yang dibuatnya.
2.1.4.5 Indikator Disiplin Kerja
Menurut Agustini (2019:104) Pada
dasarnya ada banyak indikator yang mempengaruhi tingkat kedisiplinan pegawai
suatu organisasi. Beberapa indikator disiplin adalah sebagai berikut:
1.
Tingkat kehadiran, yaitu jumlah kehadiran karyawan untuk
melakukan aktivitas kerja di perusahaan yang ditandai dengan tingkat
ketidakhadiran karyawan yang rendah.
2.
Tata cara kerja, yaitu aturan atau ketentuan yang harus
dipatuhi oleh seluruh anggota organisasi.
3.
Ketaatan pada atasan, yaitu mengikuti apa yang diarahkan oleh
atasan untuk mendapatkan hasil yang baik.
4.
Kesadaran bekerja, yaitu sikap seseorang yang dengan sukarela
melakukan pekerjaannya dengan baik, bukan karena paksaan.
5.
Tanggung jawab, yaitu kesediaan pegawai untuk bertanggung
jawab atas pekerjaannya, sarana dan prasarana yang digunakan, dan perilaku
kerjanya
2.1.5
Kinerja Pegawai
2.1.5.1
Pengertian Kinerja Pegawai
Keberhasilan suatu organisasi dipengaruhi oleh kinerja (job performance) pegawai, untuk itu setiap Rusun akan berusaha untuk meningkatkan
kinerja pegawainya dalam mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Di sisi lain, kemampuan pemimpin
dalam menggerakkan dan memberdayakan pegawai akan
mempengaruhi kinerja. Kinerja pegawai mengacu pada prestasi seseorang
yang diukur berdasarkan standar dan kriteria
yang ditetapkan oleh desa.
Menurut
Mangkunegara (2015:67), mengemukakan bahwa kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan
kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai
dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan
kepadanya. Menurut Prawirosentono dalam Agus Wijaya et. al (2015: 140-141),
mengemukakan bahwa Kinerja
adalah hasil kerja yang dicapai
oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung
jawab masing- masing, dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan
sesuai dengan moral maupun etika.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kinerja merupakan hasil kerja seseorang yang mampu melaksanakan tugas- tugas yang diberikan dengan usaha, kecakapan,
pengalaman dan kemampuannya baik
dalam mengatur waktu maupun menjalankan tugas itu sendiri dengan tanggungjawab untuk mencapai tujuan tertentu.
Kinerja pegawai yang optimal sangat
dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas
dan menjaga kelangsungan hidup Rusun ini. Setiap Rusun tidak akan pernah luput dari hal pemberian balas jasa atau kompensasi yang merupakan salah satu masalah penting dalam menciptakan motivasi
kerja pegawai, karena untuk
meningkatkan kinerja pegawai dibutuhkan pemenuhan kompensasi untuk mendukung motivasi para pegawai. Dengan
terbentuknya motivasi yang kuat, maka
akan dapat membuahkan hasil atau kinerja yang
baik sekaligus berkualitas dari pekerjaan yang dilaksanakannya.
2.1.5.2
Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Kinerja
Kinerja
seorang pegawai dapat dipengaruhi berbagai
faktor, yaitu faktor kemampuan dan faktor motivasi.
Mangkunegara, (2015:67) mengatakan bahwa kinerja pada umumnya dipengaruhi oleh dua faktor,
yaitu:
a.
Faktor kemampuan (Ability).
Secara psikologi, kemampuan pegawai
terdiri dari kemampuan
dalam hal kepintaran dan juga kemampuan
dalam hal keahlian. Artinya pegawai yang memiliki
keahlian diatas rata-rata dengan pendidikan sehari-hari, maka ia akan lebih mudah mencapai kinerja yang diharapkan. Oleh
sebab itu pegawai perlu ditempatkan pada pekerjaan yang sesuai kemampuannya.
b.
Faktor motivasi
Motivasi terbentuk dari sikap seseorang
pegawai dalam menghadapi situasi kerja. Motivasi merupakan kondisi penggerakan diri
pegawai yang terarah untuk mencapai tujuan organisasi (tujuan
kerja) dan sikap mental pegawai yang
positif terhadap situasi kerja itulah yang memperkuat motivasi kerja untuk
menvapai kinerja yang optimal.
2.1.5.3 Indikator Kinerja
Hasil yang diperoleh oleh suatu
organisasi baik organisasi tersebut bersifat
profit oriented dan non profit oriented yang dihasilkan
selama satu periode tertentu.
Menurut Mangkunegara (2014:75)
mengemukan bahwa indikator
kinerja meliputi:
a.
Kualitas
Kualitas kerja adalah seberapa baik seorang karyawan mengerjakan apa yang seharusnya dikerjakan.
b.
Kuantitas
Kuantitas kerja adalah
seberapa lama seorang
pegawai bekerja dalam
satu harinya. Kuantitas kerja ini dapat dilihat dari kecepatan kerja
setiap pegawai itu masing-masing.
c.
Tanggung
jawab
Tanggung jawab terhadap pekerjaan adalah kesadaran akan
kewajiban karyawan untuk
melaksanakan pekerjaan yang diberikan perusahaan.
d.
Pelaksana Kerja
Pelaksanaan Tugas adalah
seberapa jauh karyawan
mampu melakukan pekerjaannya dengan akurat atau tidak ada kesalahan.
2.1.3.4
Penilaian Kinerja
Penilaian kinerja merupakan suatu proses
organisasi dalam menentukan dan menilai kinerja
karyawannya. Tujuan dilakukan penilaiaan kinerja secara umum adalah untuk memberikan feedback kepada karyawan dalam upaya memperbaiki tampilan kerjanya dan upaya
meningkatkan kinerja organisasi, dan secara khusus dilakukan dalam
kaitanya dengan berbagai
kebijaksanaan terhadap pegawai seperti itu untuk tujuan pelayanan. Sehingga
penilaiaan kinerja dapat menjadi landasan untuk penilaian sejauh mana kegiatan manajemen sumberdaya manusia
seperti sistem penggajian dapat sesuai dengan prosedur.
Menurut
Afandi (2018:83) penilaian kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai
seseorang atau kelompok orang didalam perusahaan sesuai dengan tanggung jawab
masing-masing dalam pencapaian tujuan organisasi secara ilegal, tidak melanggar
hukum yang berlaku dan tidak bertentangan dengan etika dan moral.
2.2
Penelitian Terdahulu
Bagian
ini memuat uraian secara sistematis
mengenai hasil penelitian terdahulu dan
tentang persoalan yang akan dikaji.
Penelitian tersebut diantaranya:
Tabel 2.1.
Penelitian Terdahulu
|
No |
Nama Peneliti |
Judul Penelitian |
Metode |
Hasil Penelitian |
|||
|
1 |
TS Sinaga, dkk. (2020). Jurnal ilmu
Manajemen, Vol. 8, No.
1, hal. 15-22. |
Pengaruh Motivasi dan Terhadap kinerja karyawan pada PT. Kerata api Indonesia. |
Kuantitatif |
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa motivasi tidak berpengaruh terhadap karyawan. |
|||
|
No |
Nama Peneliti |
Judul Penelitian |
Metode |
Hasil Penelitian |
|||
|
2 |
H Tanjung. (2020). Jurnal Ilmiah Magister Manajemen, Vol. 3, No.
1, hal. 60-74. |
Pengaruh Motivasi Motivasi, Disiplin Terhadap Kinerja Guru pada SMA Swasta
Perkumpulan Amal Bakti 4 Sampali Medan |
Kuantitatif |
motivasi yang tidak ada pengaruh terhadap
kinerja, disiplin kerja memiliki pengaruh yang positif terhadap kinerja,
secara parsial motivasi memiliki pengaruh yang positif terhadap kinerja, secara simultan motivasi
memiliki pengaruh yang negatif terhada Kinerja. |
|||
|
3 |
Indah Junivianti (Jurnal Ilmiah
Manajemen Sumber Daya Manusia, Tahun 2021) |
Pengaruh Disiplin dan Motivasi Terhadap
Kinerja Pegawai pada Kantor Kecamatan Pondok Aren Tangerang Selatan |
Kuantitatif |
Hasil penelitian ini Variabel disiplin kerja
Mempunyai hasil positif
namun tidak berpengaruh signifikan terhadap Kinerja
Pegawai |
|||
|
4 |
Farid Anggara Sanjaya, dkk. (2020). Jurnal Ilmu
dan Riset Manajemen, Vol. 9, No. 11 hal. 1-12. |
Pengaruh Motivasi, DisiplinKerja Terhadap
Kinerja Karyawan pada PT. BRI KC. Surabaya Jemusari |
Kuantitatif |
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa motivasi Tidak ada pengaruh terhadap kinerja karyawan disiplin kerja berpengaruh negatif dan tidak pengaruh terhadap kinerja karyawan |
|||
|
No |
Nama Peneliti |
Judul Penelitian |
Metode |
Hasil Penelitian |
|||
|
5 |
Yandra Rivaldo, dkk. (2020). Jurnal Ekonomi Manajemen dan
Akuntansi,Vol. 9, No. 3, hal. 505-515. |
pengaruh Motivasi Serta Dampaknya Terhadap
Kinerja Karyawan |
Kuantitatif |
Hasil penelitian ini terdapat motivasi dan kinerja
secara langsung berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan. motivasi
melalui kinerja tidak ada berpengaruh terhadap kinerja karyawan. |
|||
|
6 |
Nurmadhani
Fitri Suyuthi, Mutmainna (Jurnal
Manajemen, Vol. 5, No. 2, Tahun 2022, Hal. 335-345) |
Pengaruh Disiplin Kerja terhadap Kinerja
Karyawan pada PT Charoen Pokphan Indonesia, Tbk |
Kuantitatif |
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Disiplin kerja dan kinerja
karyawan berpengaruh positif
dan tidak Signifikan terhadap kinerja Karyawan |
|||
|
7 |
Rizka Putri Amelia dan
Aden Prawiro Sudarso. (2021).
Jurnal Perkusi, Vol 1, No
1, hal. 70-74 |
Pengaruh Motivasi Terhadap
Kinerja Karyawan Pada Hotel Santika Premiere ICE- BSD City |
Kuantitatif |
Hasil peneliian menunjukkan bahwa Motivasi berpengaruh negatif tehadap kinerja karyawan |
|||
|
Nama Peneliti |
Judul Penelitian |
Metode |
Hasil Penelitian |
||||
|
8 |
Yulina Astuti, dkk. (2020). Jurnal Samudra Ekonomika, Vol. 4, No. 1, hal. 51-60. |
Pengaruh Motivasi Disiplin Kerja terhadap Kinerja pada
motivasi kerja |
Kuantitatif |
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Disiplin
kerja berpengaruh negatif terhadap Kinerja. motivasi kerja dan disiplin kerja berpengaruh positif terhadap Kinerja |
|||
|
9 |
Nunu Nurjaya (2021). Jurnal Ilmiah Nasional Vol.3 No. 1 hal. 60-74 |
Pengaruh Disiplin Kerja dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja
Karyawan Pada PT. Hazara Cipta Pesona |
Kuantitatif |
Hasil penelitian menunjukkan, bahwa: (1) disiplin kerja berpengaruh positif terhadap
kinerja karyawan PT. Hazara Cipta Pesona (2) motivasi kerja berpengaruh negatif terhadap kinerja karyawan PT. Hazara
Cipta Pesona. |
|||
Sumber:
schoolar.google.co.id
Berdasarkan penelitian
terdahulu yang dapat dilihat dari tabel 2.1 bahwa terdapat judul atau variabel
penelitian, metode penelitian dan objek penelitian. Dengan demikian penelitian
ini merupakan pengembangan dari penelitian terdahulu berdasarkan teori-teori
yang ada.
2.3
Kerangka Berpikir
Menurut Sugiyono (2017) “kerangka
berpikir adalah sintesa yang mencerminkan keterkaitan antara variabel yang
diteliti dan merupakan tuntunan untuk memecahkan masalah
penelitian serta merumuskan hipotesis penelitian yang berbentuk bagan alur yang dilengkapi penjelasan kuantitatif. Lebih lanjut Sugiyono
(2017) menjelaskan “seorang peneliti harus menguasai teori-teori ilmiah sebagai dasar
menyusun kerangka pemikiran yang membuahkan hipotesis”.
Kerangka berpikir berisi tentang
penjelasan mengenai hubungan antar variabel independen (motivasi dan disiplin
kerja) dengan variabel dependen (kinerja karyawan). Hubungan tersebut akan
dijelaskan berdasarkan teori dan penelitian-penelitan terdahulu.
Menurut Sugiyono (2017) “kerangka
berpikir adalah sintesa yang mencerminkan keterkaitan antara variabel yang
diteliti dan merupakan tuntunan untuk memecahkan masalah
penelitian serta merumuskan hipotesis penelitian yang berbentuk bagan
alur yang dilengkapi penjelasan kuantitatif. Lebih
lanjut Sugiyono (2017) menjelaskan
“seorang peneliti harus menguasai teori-teori ilmiah sebagai dasar menyusun
kerangka pemikiran yang membuahkan hipotesis”.
Setiap perusahaan pasti menginginkan
pencapaian tujuan yang telah ditetapkan dapat dengan baik. Dalam suatu
perusahaan, manusia merupakan faktor penggerakan utama dalam mencapai tujuan
yang telah ditetapkan. Oleh karena itu tanpa adanya dukungan sumber daya
manusia yang bekerja dengan baik,
maka perusahaan akan sulit mencapai
sasaran yang telah
ditetapkan sebelumnya. Dengan adanya penerapan motivasi yang
tepat serta displin kerja yang efektif, maka akan berguna untuk meningkatkan
kinerja Pegawai.
2.3.1
Pengaruh Motivasi (X1) Terhadap
Kinerja Pegawai (Y)
Motivasi merupakan salah satu pendorong
bagi seseorang agar mampu melakukan
pekerjaan sesuai dengan harapan yang diinginkan.
Motivasi adalah kesediaan individu untuk mengeluarkan upaya yang tinggi untuk
mencapai tujuan organisasi (Robbins, 2001). Sehingga motivasi perlu ditanamkan
kepada semua orang dan khusunya bagi pegawai yang bekerja di perusahaan agar kinerja pergawai di perusahaan
meningkat. Seorang pegawai yang sangat termotivasi akan melaksanakan yang terbaik dalam Setiap tugas
dan tanggung jawabnya. Peningkatan kinerja karyawan akan Menambah nilai
perusahaan itu sendiri. Dari penjelasan di atas, maka variabel motivasi memang menjadi Salah
satu faktor penunjang kinerja karyawan. Penelitian dieleman (2003) Menunjukkan
bahwa motivasi karyawan dan kinerja organisasi berkorelasi Positif. Jam kerja sistem full Seharian serta Membuat
banyak Pegawai THL Rusunawa
(NON PNS) Pada Dinas Perumahan Dan Permukiman Kota Tangerang Masih ada pegawai
yang kurang bersemangat, mengantuk ketika Bekerja,dan bermain hp saat di jam Bekerja dan berdampak pada hasil kinerja.
2.3.2
Pengaruh Disiplin Kerja (X2)
Terhadap Kinerja Pegawai (Y)
Disiplin merupakan awal dari sebuah penyatuan persepsi, visi, maupun
misi seseorang sehingga yang dilakukan sesuai dengan prosedur
atau tata tertib.
Disiplin juga salah satu faktor tercapainya tujuan perusahaan. Maka tidak heran manajemen
dari sebuah perusahaan membuat peraturan yang
ketat tentang kedisiplinan ini. Disiplin juga berdampak baik bagi individu-individu yang menjalankannya, karena mampu
memengaruhi pola pikir, tindakan, perilaku, dan kebiasaan. Menurut Moenir
(1983) disiplin kerja pada dasarnya selalu diharapkan menjadi ciri setiap SDM dalam
organisasi, karena dengan
kedisiplinan organisasi akan berjalan dengan baik dan bisa mencapai tujuannya
dengan baik pula.
Dari data ketidakhadiran Pegawai THL UPT Rusunawa (NON PNS) pada
Perumahaan Dan Permukiman Kota Tangerang selama tahun 2020-2022 menunjukan
banyak sekali pegawai yang tidak hadir setiap tahun Dan Masih ada yang Datang Tidak Tepat Waktu. Hal tersebut sangat berpengaruh sekali terhadap
kinerja perusahaan, dan semakin
rendahnya tingkat disiplin kerja yang dilakukan karyawan akan menghasilkan kinerja yang kurang maksimal.
2.3.3
Pengaruh Motivasi (X1) Dan
Disiplin Kerja (X2) Terhadap Kinerja Pegawai (Y)
Setiap perusahaan pasti akan selalu berusaha untuk menumbuh kembangkan usahanya untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai. Salah satu hal yang menjadi pendorong perusahaan untuk
mencapai tujuan adalah faktor sumber daya manusia (Pegawai) yang ada
dalam perusahaan. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana tingkat kinerja karyawan
dalam organisasi dalam
mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama perusahaan.
Kinerja dinyatakan baik dan sukses apabila tujuan yang diinginkan dapat
tercapai dengan baik sesuai dengan misi dan visi perusahaan.
H1 Sumber: David McClelland dalam Susanto
dkk. (2018:188)) H2 H3 Disiplin Kerja
(Variabel X2) 1.
Tingkat Kehadiran 2.
Tata Cara Kerja. 3.
Ketaatan Pada Atasan . 4.
Kesadaran Kerja 5.
Tanggung jawab Sumber:
Menurut Agustini (2019:104) Kinerja Karyawan (Variable Y) 1.
Kualitas 2.
Kuantitas 3.
Tanggung Jawab 4.
Pelaksana Kerja Sumber:
Mangkunegara(2014:75) Motivasi Kerja
(Variabel X1) 1.
Kebutuhan
akan prestasi 2.
Kebutuhan
akan kekuasaan 3.
Kebutuhan
untuk berafiliasi
Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat dikemukakan gambar kerangka pemikiran dalam penelitian ini
Gambar
2.1 Kerangka Berfikir
3.4
Pengembangan Hipotesis
Menurut Sugiyono (2012:63) mengatakan
bahwa hipotesis adalah jawaban sementara terhadap rumusan
penelitian di mana rumusan masalah
penelitian di telah dinyatakan dalam bentuk kalimat
pernyataan. Dengan kata lain, hipotesis
merupakan dugaan sementara yang mungkin benar dan mungkin salah, sehingga dapat
di anggap atau dipandang sebagai kesimpulan yang sifat sementara. Sedangkan
penolakan atau penerima suatu hipotesis tersebut tergantung dari hasil penelitian terhadap
faktor-faktor yang di kumpulkan, kemudian diambil suatu kesimpulan.
Berdasarkan penelitian perumusan
masalah. Tinjauan pustaka, dan tinjauan penelitian, maka hipotesis yang
diajukan sebagai jawaban sementara terhadap permasalahan yang diajukan sebagai
jawaban sementara terhadap permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini
yaitu :
1. Ho1
: ρ1 = 0 : Tidak terdapat pengaruh
yang signifikan antara motivasi terhadap
kinerja Pegawai UPT THL Rusunawa (NON PNS) Pada kantor Dinas Perumahan Dan
Pemukiman Kota Tangerang.
Ha1 : ρ1 ≠ 0 : Terdapat
pengaruh yang signifikan antara motivasi terhadap kinerja Pegawai UPT THL Rusunawa (NON PNS) Pada
kantor Dinas Perumahan Dan Pemukiman Kota Tangerang.
2. H o2
: ρ2 = 0 : Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara Disiplin kerja terhadap kinerja Pegawai UPT THL Rusunawa (NON
PNS) Pada kantor Dinas Perumahan Dan Pemukiman Kota Tangerang.
H a2 : ρ2 ≠ 0 : Terdapat pengaruh
yang signifikan antara Disiplin kerja terhadap kinerja
Pegawai UPT THL
Rusunawa (NON PNS) Pada kantor Dinas Perumahan Dan Pemukiman Kota Tangerang.
3. H o3
: ρ3 = 0 : Tidak terdapat
pengaruh yang signifikan antara motivasi dan
Disiplin Kerja terhadap
kinerja Pegawai UPT THL Rusunawa (NON
PNS) Pada kantor Dinas Perumahan Dan Pemukiman Kota Tangerang.
H a3 : ρ3 ≠ 0 : Terdapat pengaruh
yang signifikan antara motivasi dan Disiplin Kerja terhadap kinerja Pegawai UPT THL Rusunawa (NON PNS) Pada kantor Dinas Perumahan Dan
Pemukiman Kota Tangerang.
BAB
III
METODE PENELITIAN
3.1
Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini
penulis menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian asosiatif, menurut Sugiyono (2017:8)
metode penelitian kuantitatif adalah
metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat
positivisme, digunakan untuk meneliti pada
populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat
kuantitatif atau statistik, dengan tujuan
untuk menguji hipotesis yang telah
ditetapkan. Menurut Sugiyono (2016:55), penelitian asosiatif kausal adalah
penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel atau
lebih. Dalam Penelitian ini dapat dibangun suatu teori yang dapat berfungsi untuk menjelaskan,
meramalkan dan mengontrol suatu gejala.
3.2
Tempat dan Waktu Penelitian
3.2.1
Tempat Penelitian
Menurut Sugiyono ( 2017 : 13 )
berpendapat bahwa “ Tempat penelitian adalah
sasaran ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan
dan kegunaan tertentu tentang sesuatu hal yang objektif
”. Perusahaan yang menjadi objek penelitian ini adalah Pegawai THL UPT Rusunawa (NON PNS) Pada Kantor Dinas Perumahan Dan
Permukiman Kota Tangerang .
3.3.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksankan selama 7 (Tujuh) bulan yang dimulai dari bulan Mei 2023 sampai dengan
bulan November 2023. Adapun penelitian
dilakukan secara bertahap disesuaikan dengan tingkat kebutuhan penulis, diawali
dengan persiapan pendahuluan
berupa penyusunan Bab 1
sampai Bab 3, penyusunan instrument penelitian,
penyebaran instrument penelitian, pengumpulan data, pengelolaan dan analisis
data , penyusunan hasil penelitian skripsi. Berikut tabel waktu penelitian :
Tabel 3.1
Waktu Penelitian
|
No |
Kegiatan |
Bulan |
||||||
|
Mei |
Jun |
Jul |
Ags |
Sep |
Okt |
Nov |
||
|
1 |
Penyusunan Bab 1 – Bab 3 |
|
|
|
|
|
|
|
|
3 |
Penyusunan instrumen penelitian |
|
|
|
|
|
|
|
|
4 |
Penyebaran instrumen penelitian |
|
|
|
|
|
|
|
|
5 |
Pengumpulan data |
|
|
|
|
|
|
|
|
6 |
Pengelolaan dan analisis data |
|
|
|
|
|
|
|
|
7 |
Penyusunan hasil penelitian skripsi |
|
|
|
|
|
|
|
|
8 |
Sidang skripsi |
|
|
|
|
|
|
|
Sumber: data primer yang
diolah
3.3
Operasional Variabel Penelitian
Menurut Sugiyono ( 2017 : 38 ) “Variabel
penelitian merupakan segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari
sehingga diperoleh informasi tetang hal tersebut, kemudian ditarik
kesimpulanya”.
Operasinalisasi variabel diperlukan
dalam menentukan jenis, indikator, serta skala dari variabel-variabel yang
terkait dalam suatu
penelitian, sehingga pengujian hipotesis dengan alat bantu statistik dapat dilakukan secara
benar. Dalam penelitian yang dilakukan penulis
terdiri dari variabel
independen dan variabel
dependen.
3.3.1 Variabel
Independen atau Bebas ( X1 dan X2 )
Menurut Sugiyono ( 2017 : 39 ) berpendapat
variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi variabel terikat (dependen).
Variabel bebas merupakan variabel stimulus atau variabel yang dapat
mempengaruhi variabel lain. Variabel
bebas merupakan variabel yang diukur atau dipilih
oleh peneliti untuk menentukan hubunganya dengan suatu gejala yang
diobservasi. Variabel bebas yang diteliti
dalam penelitian ini meliputi:
1.
Motivasi Kerja (X1)
Menurut Viethzal Rivai (2013:456)
Motivasi kerja adalah kondisi yang berpengaruh membangkitkan, mengarahkan dan
memelihara perilaku yang berhubungan dengan lingkungan kerja.
Menurut David McClelland dalam Susanto
dkk. (2018:187) Adapun indikator yang digunakan meliputi: (1). Kebutuhan akan prestasi (2). Kebutuhan akan kekuasaan (3) Kebutuhan untuk berafiliasi.
2.
Disiplin Kerja (X2)
Menurut Bejo Siswanto ( 2013 : 291 ) Disiplin kerja adalah suatu sikap
menghormati, menghargai, patuh dan taat terhadap peraturan-peraturan yang berlaku baik yang tertulis maupun
yang tidak tertulis serta sanggup menjalankanya
dan tidak mengelak menerima sanksi-sanksi apabila ia melanggar tugas dan wewenang yang diberikan kepadanya. Adapun indikator Disiplin Kerja (X2) Menurut
Agustini (2019:104) yang digunakan meliputi: (1). Tingkat Kehadiran (2) Tata Cara Kerja (3)
ketaatan pada atasan (4) kesadaran kerja (5) Tanggung Jawab.
3.3.2 Variabel Dependen atau Terikat (Y)
Menurut Sugiyono ( 2017 : 39 )
berpendapat variabel dependen sering disebut sebagai variabel output,
kriteria, konsekuen atau terikat yaitu varibel yang dipengaruhi atau yang
menjadi akibat karena adanya variabel bebas. Dalam penelitian ini variabel
terikatnya adalah kinerja.
Menurut Kamsir ( 2016 : 182 ) “ kinerja
adalah hasil kerja dan perilaku kerja yang telah dicapai dalam menyelesaikan
tugas-tugas dan tanggung jawab yang diberikan dalam suatu periode tertentu”.
Menurut
Mangkuneraga (2014:75) Adapun indikator yang digunakan meliputi: 1) Kualitas , 2) Kuantitas, 3) Tanggung Jawab, 4) Pelaksana Tugas. Secara rinci
operasional variabel penelitian ini dibuat tabel variabel, indikator dan nomor
pertanyaan, seperti terlihat bawah ini:
Tabel 3.2
Definisi Operasional Variabel
|
Variabel |
Indikator |
Nomer
Kuesioner |
Skala |
|
Motivasi Kerja
(X1) Sumber: David McClelland
dalam Susanto dkk. (2018:188) |
1. Kebutuhan akan prestasi |
1,2,3 |
Likerd |
|
2.
Kebutuhan
akan kekuasaan |
4,5,6 |
||
|
3.
Kebutuhan
untuk berafiliasi |
7,8,9,10 |
||
|
Disiplin Kerja (X2) |
1. Tingkat Kehadiran |
1,2,3 |
|
|
2. Tata Cara Kerja |
4,5 |
||
|
Variabel |
Indikator |
Nomer
Kuesioner |
Skala |
|
Sumber: Agustini (2019:104) |
3. Ketaatan pada atasan. |
6 |
Likerd |
|
4. Kesadaran Kerja |
7,8 |
||
|
5.
Tanggung Jawab |
9,10 |
||
|
Kinerja Karyawan(Y) Sumber: Mangkunegara (2014:75) |
1. Kualitas. |
1,2,3 |
Likerd |
|
2. Kuantitas. |
4,5,6 |
||
|
3. Tanggung Jawab. |
7,8 |
||
|
4. Pelaksana Tugas. |
9,10 |
Sumber: data diolah
penulis 2023
3.4
Populasi dan Sampel
Menurut Sugiyono (2012:115) populasi adalah wilayah generalisasi yang
terdiri dari obyek atau subyek yang memiliki kualitas dan karakteristik
tertentu yang ditetapkan peneliti untuk dipelajari yang kemudian ditarik
kesimpulannya. Sedangkan menurut Arikunto (2014:173) menyampaikan bahwa
“populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Dari pengertian di atas, disimpulkan populasi adalah
keseluruhan karakteristik atau sifat subjek
atau objek yang dapat ditarik sebagai sampel. Adapun yang menjadi
populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan pegawai THL UPT Rusunawa (NON PNS) Pada Kantor Dinas Perumahan
Dan Permukiman Kota Tangerang, yang
berjumlah Sebanyak 50 orang, yang dimana Pegawai THL UPT sebanyak 30 Orang
,Security sebanyak 18 Orang dan Office boy (OB) sebanyak 2 orang.
3.4.2 Sampel
Menurut Sugiyono (2019:215) berpendapat “sampel adalah jumlah dan
karakteristik yang dimiliki oleh populasi”. menurut Arikunto
(2018:131), “sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti”. Lebih
lanjut menurut Sugiyono
(2019:81) “Tehnik sampling merupakan tehnik pengambilan
sampel untuk digunakan dalam penelitian”. Dalam pengambilan sampel dapat
menggunakan sampling jenuh. Menurut Sugiyono (2019:82) berpendapat “sampling jenuh adalah teknik
penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel”. Istilah
lain sampel jenuh adalah sensus, dimana anggota populasi di jadikan sampel.
Dalam penelitian ini sampel yang digunakan adalah keseluruhan pegawai THL UPT Rusunawa (NON
PNS) Pada Kantor Dinas Perumahan Dan Permukiman Kota Tangerang, yang berjumlah Sebanyak 50 orang,
yang dimana Pegawai THL UPT Rusunawa sebanyak 30 Orang ,Security sebanyak 18
Orang dan Office boy (OB) sebanyak 2 orang. yang mewakili jumlah
populasi karyawan yang ada dalam organisasi.
3.5
Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data
merupakan kegiatan mencari data di lapangan yang akan digunakan untuk menjawab
permasalahan penelitian dengan upaya untuk mendapatkan informasi yang akan
digunkan dalam pengukuran variabel.
Menurut Sugiyono (
2017: 308 ) “ Metode pengumpulan data adalah cara ilmiah untuk mendapatkan data
yang valid dengan tujuan dapat
dibuktikan, dikembangkan suatu pengetahuan sehingga dapat
digunakan memecahkan dan mengantisipasi masalah”
3.5.1 Data Primer
Menurut Sugiyono ( 2017 : 137 ) mendifinisikan “ Data primer adalah sumber data yang langsung
memberikan data kepada pengumpul data”. Data primer terdiri sebagai berikut:
1. Teknik
Obeservasi
menurut Sugiyono ( 2017 : 138 )
Observasi sebagai teknik pengumpulan data yang
mempunyai ciri spesifik bila dibandingkan
dengan teknik yang lain. Sutrisno
Hadi (1986) dalam Sugiyono ( 2017 : 145 ) mengemukakan bahwa, observasi suatu
proses yang kompleks, suatu proses
yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. Dua diantara yang
terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan. Dalam hal ini penulis
melaksanakan pengamatan langsung terhadap keseluruhan pegawai THL UPT Rusunawa (NON PNS) Pada Kantor Dinas Perumahan Dan
Permukiman Kota Tangerang ,dimana
pengamatan terbatas pada pokok
permasalahan sehingga perhatian lebih fokus
kepada data (riil) dan relavan.
2. Teknik
penyebaran angket atau Kuesioner
menurut Sugiyono Menurut Sugiyono (2017:142) “kuesioner
merupakan teknik pengumpulan data yang di lakukan dengan cara memberi
seperangkat atau pernyataan tertulis kepada responden untuk di jawabnya”.
Kuesioner terbagi menjadi dua yaitu kuesioner terbuka dan kuesioner tertutup.
Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang akan di gunakan adalah
kuesioner tertutup dengan menggunakan skala pengukuran yaitu skala likert.
Menurut Sugiyono (2017:93) “skala likert digunakan untuk mengukur sikap,
pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena
sosial”. Terdapat lima penilaian yang di gunakan dalam penelitian ini sebagai
berikut.
Tabel
3.3
Skala Likert
|
No |
Keterangan |
Singkatan |
Nilai Skala |
|
1. |
Sangat Setuju |
SS |
5 |
|
2. |
Setuju |
S |
4 |
|
3. |
Kurang Setuju |
KS |
3 |
|
4. |
Tidak Setuju |
TS |
2 |
|
5. |
Sangat Tidak
Setuju |
STS |
1 |
Sumber :
Sugiyono (2017: 94)
3.5.2 Data Sekunder
Menurut Sugiyono ( 2017 : 137 ) bahwa
data sekunder adalah sumber data yang tidak langsung memberikan data kepada
pengumpul data. Data sekunder ini merupakan data yang siftanya mendukung keperluan data
primer seperti penelitian pustaka dan penlitian lapangan.
1. Studi
kepustakaan
penelitian yang dilakukan
dengan membaca, mengutip secara langsung atau tidak langsung
dari buku-buku yang berhubungan langsung dengan topik yang diteliti.
Menurut Sugiyono ( 2017 : 138 ) “Studi kepustakaan berkaitan dengan kajian
teoritis dan refernsi lain yang berkaitan dengan nilai, budaya dan norma yang
berkembang pada situasi sosial yang diteliti.
2. wawancara
Penulis melakukan wawancara secara langsung kepada pimpinan dan pegawai THL UPT Rusunawa (NON PNS) Pada Kantor Dinas
Perumahan Dan Permukiman Kota Tangerang.
3.6
Teknik Analisis Data
3.6.1
Uji
Istrumen Penelitian
Uji kualiatas
data digunakan untuk melihat apakah data layak
untuk diuji dalam penelitian. Dalam penelitian ini terdapat dua pengujian data,
(a) uji validitas,
(b) uji reabilitas yang digunkan untuk mengetahui apakah
data sudah memenuhi asas validitas dan reabilitas. Hal ini dimaksudkan agar
data benar sudah layak digunkan dalam penelitian dengan menggunakan software
SPSS 26.
3.6.1.1
Uji Validitas
Menurut Sugiyono (2015:203) instrumen
yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur)
itu valid, dengan kata lain instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur
apa yang seharusnya diukur. Valid
berarti instrument yang dapat
digunakan untuk mengukur apa yang harusnya diukur. Untuk menguji validitas
instrument penelitian digunakan teknik korelasi
product moment yang dirumuskan:
Menurut Sugiyono (2013:248) dengan rumus sebagai berikut :
r
=
Dimana :
R = Koefisien validitas butir pertanyaan yang dicari
N = Banyaknya koresponden
X = Skor yang diperoleh subjek dari seluruh item
=
= Jumlah skor dalam distribusi X
= Jumlah skor dalam distribusi Y
Y
X
Dalam pengujian validitas ini, digunakan softwer SPSS Versi 21 dengan langkah - langkah sebagai berikut:
1.
Buka menu SPSS 26 statistik
2.
Klik type in data kemudian masukkan data mentah
3.
Pilih menu analyze, pilih correlate dan klik bivariate masukkan data.
4.
(nilai seluruh item sampai pada
total score)
5.
Pilih rumus correlation coefficient spearmen
6.
Klik two- tailed pada kolom test of significance
7.
Kemudian klik OK
3.6.1.2
Uji Reliabilitas
Uji Reliabilitas adalah serangkaian
pengukuran atau serangkaian alatukur yang memiliki konsistensi bila pengukuran
yang dilakukan dengan alat ukur dilakukan secara berulang. Instrumen yang baik
tidak akan bersifat tendensius mengarahkan responden untuk memilih jawaban
tertentu. Menurut Sugiyono (2017: 168) berpendapat “Instrumen yang reliabel jika digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama, akan menghasilkan data yang sama. Jadi, suatu
data dinyatakan reliabel apabila dua atau lebih penelitian dalam objek yangsama
menghasilkan data yang sama, atau
penelitian sama dalam waktu yang berbeda
menghasilkan data yang sama.
Reliabilitas memiliki arti dan sifat
dapat dipercaya. Pengujian terhadap reliabilitas atau keandalan dimaksudkan
untuk mengetahui apakah kuesioner dapat memberikan ukuran yang konstan atau
tidak. Instrumen (kuesioner) yang reliable berarti mampu mengungkapkan data yang dapat dipercaya.Uji reliabilitas diperlukan untuk mengetahui
ketetapan atau tingkat presisi suatu ukuran atau alat
ukur. suatu alat ukur dapat dikatakan reliabilitas apabila digunakan
berkali-kali dalam penelitian yang sama atau oleh peneliti lain tetap akan
menghasilkan hasil yang sama. Pengujian reliabilitas Rumus yang digunakan adalah cronbach's
alpha.
Keterangan:
r 11 = Koefisien Reliabilitas cronbach
alpha
si = Varians skor tiap item pertanyaan
st = varians
total
k = jumlah item pertanyaan
Langkah menghitung reliabilitas menggunakan program SPSS adalah sebagai berikut
:
1)
Buka program SPSS dan klik “variable
view”.
Pada bagian name tuliskan item_1
kebawah sampai 10 sesuai dengan pernyataan
kuesioner dan sesuai variabel, kemudian pada bagian bawah ditulis skor total.
2)
Pada bagian “decimals”
ubah menjadi angka 0.
3)
Kemudian klik “data view” pada
bagian pojok kiri bawah dan masukkan data penilaian
responden atau tabulasi
dengan cara copy paste.
4)
Selanjutnya pilih menu “analyze”.
5)
Kemudian pilih sub menu “scale”, klik “reliability analysis”.
6)
Muncul kotak dialog baru bernama
“reliability analysis”, masukan nama semua
variabel kedalam kotak item, kecuali skor total kemudian bagian model pilih “alpha”.
7)
Selanjutnya klik “statistic”, pada
bagian descriptives for, klik “scale if item deleted”, selanjutnya “continue”.
8)
Klik “ok” untuk akhiri perintah setelah itu akan muncul tampilan output hasil pada tabel reliability
statistics.
Penelitian ini juga melalui pengukuran dengan analisis Cronbach’s Alpha, dimana menurut Ghozali (2017:238) mengklasifikasikan nilai Cronbach’s Alphasebagai berikut:
1.
Jika nilai Cronbach’s Alpha > 0,60 maka
instrumen reliabel
2.
Jika nilai Cronbach’s Alpha < 0,60 maka
intrumen tidak reliabel
1.
Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik
digunakan untuk mengetahui ketepatan sebuah data. Menurut Singgih Santoso
(2015:342) berpendapat “Sebuah model regresi akan digunakan untuk melakukan
peramalan sebuah model yang baik adalah model dengan kesalahan peramalan yang seminimal mungkin. Karena itu, sebuah
model sebelum digunakan seharusnya memenuhi beberapa asumsi, yang biasa disebut asumsi klasik”. Dalam
penelitian ini uji asumsi klasik yang digunakan
adalah meliputi: uji normalitas, uji multikolinearitas, dan uji
heterokedastisitas.
a. Uji Normalitas
Uji Normalitas digunakan untuk menguji
apakah dalam sebuah model regresi, variabel dependen, variabel independen, atau
keduanya mempunyai distribusinormal atau tidak. Menurut Ghozali (2017:160)
berpendapat ”Model regresi yang baik adalah berdistribusi normal atau mendekati
normal”. Jadi uji normalitas bukan dilakukan pada masing-masing variabel tetapi
pada nilai residualnya. Dengan demikian uji ini untuk memeriksa apakah data
yang berasal dari populasi terdistribusi normal atau tidak.
Dalam pengujian ini, digunakan sofware SPSS
Versi 26.
Lebih lanjut Ghozali (2017:161) menjelaskan bahwa uji normalitas dapat berpedoman pada uji
Kolmogorov Smirnov dengan ketentuan:
1.
Jika nilai signifikansi < 0,05, maka data tidak berdistribusi normal.
2.
Jika nilai signifikansi > 0,05, maka data berdistribusi normal.
Dalam
pengujian normalitas ini, digunakan sofware
SPSS Versi 26 dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1.
Klik analyze-regresion- linier
2.
Pindahkan item utam ake kotak
dependen. Item pendukung kek kotan independen klik save, unchecklist mahalanobis distance, checklist residual unsetandardized lalu klik continue.
3.
Klik OK , hasil Res_1 keluar pada unjung paling kakan input data
4.
Klik analyze-non parametic
test-legalcy dialogs-1sample K-S
5.
Klik unstandardised residual pindahkan ke kotak test variabel list.
6.
Pastikan test distribution -normal telah di check list lalu klik OK
muncul tabel one - sample kolmogorov smirnove-test.
b. Uji Multikolinearitas
Uji Multikoliniearitas ini bertujuan menguji
apakah pada model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen.
Menurut Ghozali (2017:105), berpendapat bahwa “Uji multikolinearitas bertujuan
untuk menguji apakah pada model regresi ditemukan adanya korelasi antar
variabel bebas (independen)”. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi
korelasi di antara variabel independen. Jika variabel independen saling
berkorelasi, maka variabel- variabel ini tidak ortogonal. Variabel ortogonal
adalah variabel independen yang nilai korelasi antar sesama variabel independen
sama dengan nol.
Dalam penelitian ini ketentuan untuk
mendeteksi ada atau tidaknya multikolonieritasdi dalam modelregresi dapat
dilihat dari nilai tolerancedan
lawannya,variance inflation factor(VIF).
Kedua ukuran ini menunjukkan setiap variabel independen manakala yang
dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Tolerancemengukur variabilitas variabel independen yang terpilih
yang tidak dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Jadi nilai tolerance yang rendah sama dengan nilai VIF tinggi (karena VIF = 1/Tolerance). Model Regresi yang baik adalah yang tidak terjadi multikolinieritas.
Dalam pengujian, digunakan sofware SPSS Versi 26. Untuk mendeteksi
hal tersebut pedomannya adalah sebagai berikut:
1.
Jika nilai nilai tolerance lebih > dari 0.1 dan nilai variance inflation factor(VIF) < dari 10, maka tidak terjadi
multikolinieritas.
2.
Jika nilai nilai tolerance lebih < dari 0.1 dan nilai variance inflation factor(VIF) > dari 10, maka terjadi multikolinieritas.
Dalam pengujian multikolinieritas ini, digunakan sofware SPSS Versi 26 dengan
langkah-langjah sebagai berikut:
1.
Klik
Analyze, pilih regresion- Linear.
2.
Pindahkan item utama ke kotak
dependen dan item pendukung ke kotak independent, Klik Save, uncheklist
residual unstandardized, lalu continue.
3.
Klik statistic, pilih colinearity diagnostic, lalu continue.Klik OK
dan akan keluar hasil ooutput nya apada tabel coefficient.
c. Uji Heteroskedastisitas
Menurut Ghozali (2017:139) “Uji
heteroskedastisitas bertujuan untuk mengetahui apakah dalam model regresi
terjadi ketidaksamaan varian dari suatu residual pengamatan ke pengamatan
lain”. Untuk mengetahui ada tidaknya heteroskedastisitas adalah dengan menggunakan
uji Glejser. Rumus yang digunakan
adalah sebagai berikut:
Sumber: Ghozali
(2017:125-126)
Keterangan:
Ln = Regresi
έ 2 = Kuiadrat nilai undstandarized residual
dari uji regresi
βo = Konstanta regresi
βln(X1) = Konstanta regresi variabel independen
µi = Residual test
Menurut Ghozali (2017:142), ketentuan
dalam uji Glejser dapat melihat hasil
uji nilai residual absolut diregresi dengan variabel independen.Dalam pengujian
ini, digunakan sofware SPSS Versi 26.
Adapun ketentuan terjadi atau tidak
terjadi gangguan heteroskedastisitas adalah sebagai berikut:
1.
Jika variabel independen signifikan
secara statistik memiliki nilai signifikansi (Sig.) < 0,05, maka terjadi gangguan heteroskedastisitas.
2.
Jika variabel independen tidak signifikan secara statistik
memiliki nilai signifikansi (Sig.) > 0,05, maka
tidak terjadi gangguan heteroskesdastisitas.
Dalam pengujian
heteroskesdastisitas ini, digunakan sofware SPSS Versi 26 dengan langkah-langjah sebagai berikut:
1.
Buka Program SPSS Versi 26
2.
Buka menu Transform, Klik Compute variable.
3.
Lalu pada kolom “Target Variabel”
ketik: RES2
4.
Pada Kolom: “Numeric
Expression” ketik ABS_RES(RES_1), Lalu Klik OK
5.
Kemudian lihat pada Data View maka
akan muncul Variabel baru dengan
nama RES2.
6.
Kemudian klik Analyse, pilik Regression,
Klik Linier
7.
Keluarkan variabel Y diganti dengan
variabel RES_2, lalu save.
8.
Muncul Linier Regression: Save, lalu hilangkan tanda centang di Understand, kemudian
klik Continue, lalu klik OK.
2.
Analisis Regresi Linear berganda
Menurut Sugiyono (2017:275) “analisis
regresi linear berganda digunakan oleh peneliti,
bila peneliti meramalkan bagaimana keadaan (naik turunnya) variabel dependen (kriterium), bila dua
atau lebih variabel independen sebagai faktor predictor
dimanipulasi (dinaik turunkan
nilainya)”. Penelitian ini menggunakan
regresi linear berganda karena variabel bebas dalam penelitian lebih dari satu yaitu motivasi (x1)
dan disiplin kerja (x2) dan menggunakan satu variabel terikat
yaitu kinerja karyawan
(y), regresi linier berganda dapat dirumuskan sebagai
berikut.
Y = a + b1X1 + b2X2 +
έ
Sumber:
Sugiyono (2017:277)
Keterangan :
A = Bilangan konstanta
Y = Variabel dependen
b1,2 = Koefisien regresi masing-masing
variabel X1,X2 = Variabel Independen
Έ = Disturbance’serror /
variabel pengganggu
Dalam
pengujian regresi ini, digunakan sofware SPSS
Versi 26
dengan langkah- langkah sebagai berikut:
1.
Masuk program SPSS
2.
Klik variabel view ada SPSS data editor
untuk menginput data variabel
3.
Pada barisan pertama kolom name ketik
item pendukungnya pada
4.
type
pilih numeric
5.
Pindahkan ke kotak data view dan
input data sesuai dengan variabelnya
6.
Klik analyze-regression-linear
7.
Klik variabel pendukung pindahkan ke kotak independen dan pada kotak
dependen isi dengan variabel utama
8.
Klik OK maka hasil output yang di dapat pada anova, coefficient dan tabel model summary.
3.
Analisis Koefisien
Korelasi Berganda
Analisis koefisien korelasi berganda
adalah suatu korelasi
yang bermaksud untuk melihat hubungan
antara 3 atau lebih variabel
(dua atau lebih variabel
dependent dan satu variabel independent). Korelasi berganda berkaitan
dengan interkolasi variabel
variabel independen sebagaimana korelasi mereka dengan variabel dependen.
Selain itu menurut Ridwan (2018:238) “korelasi
ganda adalah suatu nilai yang memberikan kuatnya pengaruh atau hubungan dua variabel atau lebih secara bersama sama dengan variabel lain.
Korelasi berganda (multiple correlation) merupakan korelasi yang terdiri dari dua variaberl
bebas (X1, X2) atau lebih, serta satu variabel terikat
(Y). Apabila perumusan
masalahnya terdiri dari tiga masalah
atau lebih, dan hubungan masing masing variabel
di hitung menggunakan korelasi sederhana maka diperoleh alur hubungan antar masing masing variabel sebagai berikut :
Keterangan:
r x1x2 = koifisien
korelasi berganda
X1 = variabel
bebas X1
X2 = variabel
bebas X2
rx1y =
koefisien korelasi antara X1
dan Y
rx2y = koefisien korelasi antara X2 dan Y
Rx1x2y = koefisien korelasi
berganda antara X1,X2 dan Y
Y = variabel dependent
Dalam pengujian ini, digunakan sofware SPSS versi
26. Lebih lanjut menurut Sugiyono (2019:184) untuk
menginterpretasikan hasil koefisien korelasi dapat berpedoman pada tabel
sebagai berikut:
Tabel
3.4
Pedoman
Interpretasi Koefisien Korelasi
|
Interval Nilai Koefisien Korelasi |
Tingkat
Hubungan |
|
0,000
– 0,199 |
Sangat
Rendah |
|
0,200
– 0,399 |
Rendah |
|
0,400
– 0,599 |
Sedang |
|
0,600
– 0,799 |
Kuat |
|
0,800
– 1,000 |
Sangat
kuat |
Sumber: Sugiyono (2017:184)
Dalam
pengujian koefisien korelasi ini, digunakan sofware
SPSS Versi 26 dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1.
Masuk program SPSS
2.
Klik variabel view ada SPSS data editor
untuk menginput data variabel
3.
Pada barisan pertama kolom name ketik
item pendukungnya pada
4.
type
pilih numeric
5.
Pindahkan ke kotak data view dan inut data sesuai dengan variabelnya
6.
Klik analyze-regression-linear
7.
Klik variabel pendukung pindahkan ke kotak independen dan pada kotak
dependen isi dengan variabel utama
8.
Klik OK maka hasil output yang di dapat pada anova, coefficient dan tabel model
summary.
4.
Analisis Koefisien Determinasi
Analisis koefisien determinasi dimaksudkan untuk mengetahui besarnya
pengaruh antara variabel independen terhadap variabel dependen baik
secara parsial maupun simultan. Menurut Supangat (2015:350) “Koefisien
determinasi merupakan besaran untuk menunjukkan tingkat kekuatan hubungan
antara dua variabel atau lebih dalalm bentuk persen” Berdasarkan dari
pengertian ini maka koefisien determinasi merupakan
bagian dari keragaman
total dari variabel
terikat yang dapat diperhitungkan oleh keragaman variabel bebas dihitung
dengan koefisien determinasi dengan asumsi dasar faktor-faktor lain di luar variabel dianggap konstan.
Rumus yang digunakan
dalam analisis ini menurut Sugiyono (2017:350) untuk mengetahui besarnya
kontribusi dari variabel
bebas terhadap variabel
terikat yang
KD = r2 x100%
Sumber:
Sugiyono (2017:350)
Keterangan:
KD : Koefisien Determinasi
R : Koefisien Korelasi antara variabel bebas dan terikat (yang
dikuadratkan)
100% : Pengalian
yang dipersentasikan
Dalam pengujian ini, digunakan sofware SPSS Versi 26. Adapun ketentuan besarnya nilai koefisien
determinasi (Kd) antara 0 (nol) sampai dengan 1 (satu) dimana interpretasinya
adalah :
1.
Jika determinasi bernilai 0 =
berarti tidak ada hubungan antara variabel X1 dan X2 (bebas) dengan variabel Y (terikat).
2.
Jika determinasi bernilai 1 =
berarti ada kecocokan yang sempurna dari ketepatan
perkiraan model.
Dalam pengujian koefisien determinasi ini, digunakan sofware SPSS Versi 26 dengan
langkah-langkah sebagai berikut:
1.
Masuk program SPSS
2.
Klik variabel view ada SPSS data editor
untuk menginput data variabel
3.
Pada barisan pertama kolom name ketik item pendukungnya pada
type pilih
numeric
4.
Pindahkan ke kotak data view dan inut data sesuai dengan variabelnya
5.
Klik analyze-regression-linear
6.
Klik variabelpendukung pindahkan ke
kotak independen dan pada kotak dependen isi dengan variabel utama
7.
Klik OK maka hasil output yang di dapat pada anova, coefficient dan tabel model summary.
3.6.1.3
Uji Hipotesis
Pengujian hipotesis
dimaksudkan untuk menentukan apakah suatu hipotesis sebaiknya diterima atau
ditolak. Menurut Sugiyono (2017:213) “Hipotesis merupakan jawaban sementara
terhadap rumusan masalah penelitian, oleh karena itu rumusan masalah penelitian
biasanya disusun dalam bentuk kalimat pertanyaan.” Dengan demikian hipotesis penelitian dapat diartikan
sebagai jawaban yang bersifat
sementara terhadap masalah penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul dan harus diuji secara empiris.
Maka pengujian hipotesis dilakukan melalui:
1) Uji Statistik t
(parsial)
Uji t atau uji parsial
dimaksudkan menguji bagaimana pengaruh masing-masing variabel bebasnya secara
sendiri-sendiri terhadap variabel terikatnya. Dalam penelitian ini rumusan
hipotesis yang dibuat adalah sebagai berikut:
1. Variabel
Motivasi kerja (X1)
H01 : ρ1 = 0 Tidak
terdapat pengaruh yang signifikan antara motivasi kerja
terhadap kinerja Pegawai THL
UPT Rusunawa (NON PNS) Pada Dinas Perumahan Dan Permukiman Kota Tangerang.
Ha1 : ρ1 = 0 Terdapat pengaruh
yang signifikan antara motivasi kerja terhadap Pegawai THL UPT Rusunawa (NON PNS) Pada
Dinas Perumahan Dan Permukiman Kota Tangerang.
2. Variabel
Disiplin Kerja (X2)
H02
: ρ2 = Tidak terdapat
pengaruh yang signifikan antara disiplin kerja terhadap kinerja Pegawai THL UPT Rusunawa (NON PNS) Pada Dinas
Perumahan Dan Permukiman Kota Tangerang.
Ha2 : ρ2 = Terdapat
pengaruh yang signifikan antara disiplin kerja terhadap
kinerja Pegawai THL UPT
Rusunawa (NON PNS) Pada Dinas Perumahan Dan Permukiman Kota Tangerang.
Rumus
yang digunakan dalam pengujian hipotesis (uji t) ini, menurut Sugiyono (2017:184) dapat
menggunakan dengan mencari dengan rumus sebagai berikut:
Sumber: Sugiyono (2017:184)
Keterangan:
t = Probabilitas
r
= Koefisien korelasi parsial n = Jumlah sampel.
Taraf signifikansi yang digunakan α =0,05 artinya kemungkinan hasil
penarikan kesimpulan mempunyai probabilitas 95% atau toleransi kesalahan 5%.
Dalam pengujian ini, digunakan sofware SPSS Versi 26. Kriteria hipotesis
diterima atau ditolak yaitu dengan membandingkan antara nilai t hitung dengan t
tabel dengan kriteria sebagai berikut:
1.
Jika nilai t hitung > t tabel, maka H0 ditolak dan Ha diterima.
2.
Jika nilai t hitung > t tabel, maka H0 diterima dan Ha ditolak.
Kriteria dikatakan signifikan jika nilai t hitung > t
tabel atau probability signifikansi < 0,05.
Dalam pengujian hipotesis (uji t)
ini, digunakan sofware SPSS Versi 26 dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1.
Masuk program SPSS
2.
Klik analyze-regression-linear
3.
Klik variabel pendukung pindahkan
ke kotak independen dan pada kotak dependen isi dengan variabel utama
4.
Klik OK maka hasil output yang di dapat pada anova, coefficient dan tabel model summary
2)
Uji Statistik F (Simultan)
Uji F atau simultan dimaksudkan untuk menguji pengaruh
semua variabel bebas secara
simultan terhadap variabel terikat. Dalam penelitian ini rumusan hipotesis yang
dibuat, sebagai berikut:
H03 : ρ3 = Tidak terdapat
pengaruh yang signifikan antara motivasi kerja (X1) dan disiplin
kerja (X2) terhadap
kinerja Pegawai THL UPT Rusunawa (NON PNS)
Pada Dinas Perumahan Dan Permukiman Kota Tangerang.
Ha3 : ρ3 = Terdapat
pengaruh yang signifikan antara motivasi kerja (X1) dan
disiplin
kerja (X2) terhadap kinerja Pegawai THL UPT Rusunawa (NON PNS) Pada Dinas Perumahan Dan Permukiman Kota
Tangerang.
Rumus yang digunakan menurut Sugiyono (2017:252) “Uji F digunakan untuk
mengetahui pengaruh secara simultan (bersama-sama) antara variabel independen
terhadap variabel dependen.
𝐹 ℎi𝑡𝑢𝑛g = 𝑟2 / k (1−𝑟2)/(𝑛−𝑘−1)
Sumber: Sugiyono (2017:252)
Keterangan:
r2 = Koefisien korelasi
ganda.
k = Jumlah
variabel independen.
n = Jumlah data (sampel
responden)
Dalam
pengujian ini, digunakan sofware SPSS
Versi 26. Kriteria hipotesis diterima atau ditolak yaitu dengan mebandingkan antara
nilai F hitung dengan F tabel dengan kriteria sebagai berikut:
1.
Jika nilai F hitung > F tabel, maka H0 ditolak
dan Ha diterima.
2.
Jika nilai F hitung
< F tabel, maka H0 diterima dan Ha ditolak.
Kriteria
dikatakan signifikan jika nilai F hitung > F tabel atau probability signifikansi
< 0,05.
Dalam pengujian hipotesis (UJI F) ini, digunakan sofware SPSS Versi 26 dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1.
Masuk program SPSS
2.
Klik analyze-regression-linear
3.
Klik variabel pendukung pindahkan ke kotak independendan pada kotak dependen
isi dengan variabel utama.
4.
Klik OK maka hasil output yang di
dapat pada anova, coefficient dan tabel
model summ
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1
Gambaran Umum UPT THL Rusunawa Pada Dinas Perumahan Dan
Pemukiman kota Tangerang
Objek penelitian ini
adalah Pegawai THL UPT
Rusunawa (NON PNS) Pada Kantor Dinas Perumahan Dan Permukiman Kota Tangerang yang beralamat di Jalan Betet Panungang Barat. Melalui penelitian ini peneliti
mencoba mengemukakan apakah terdapat pengaruh Motivasi Kerja dan Disiplin Kerja
Terhadap Kinerja Pegawai THL
UPT Rusunawa (NON PNS) pada Kantor Dinas Perumahan Dan Permukiman Kota
Tangerang
4.1.1
Sejarah Singkat UPT THL Rusunawa Betet Pada Dinas Perumahan
Dan Pemukiman kota Tangerang
Wakil wali
kota Tangerang pada tahun 2017-2019, H. ARIEF R WISMANSYAH, memiliki
pemikiran untuk menciptakan pembentukan organisasi dan tata kerja unit
pelaksana teknis rumah rusun sederhana sewa pada dinas perumahan dan permukiman
kota Tangerang.
Pemikiran H.ARIEF R WISWANSYAH ini
kemudian ditetapkan secara nyata dengan organisasi dan tata kerja unit pelaksana
teknis rumah rusun sederhana sewa pada dinas perumahan dan permukiman kota
Tangerang . yang didirikan atas dasar Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Peraturan
Daerah Nomor 8 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah,
maka terhadap terhadap Unit Pelaksana Teknis pada Dinas perlu diadakan
penyesuaian, dan berdasarkan ketentuan Pasal 7 Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun
2016 tentang Pembentukan Dan Susunan Perangkat Daerah, pada Dinas dan Badan
dapat dibentuk Unit Pelaksana Teknis untuk melaksanakan kegiatan teknis
operasional dan atau kegiatan teknis pemanjang tertentu.
Pada tanggal 2 desember 2019 telah ditetapkan bahwa dinas perumahan dan
permukiman kota tangerang menetapkan UPT Rusunawa Betet. UPT Rusunawa Pada Dinas perumahan Dan
perumukiman adalah salah satu organisasi
yang merupakan Pengelolaan Rumah Susun Sederhana Sewa.
Rumah Susun Sederhana Sewa yang
selanjutnya disebut Rusunawa adalah bangunan gedung bertingkat yang dibangun
dalam suatu lingkungan yang terbagi dalam bagian-bagian yang distrukturkan
secara fungsional dalam arah horisontal maupun vertikal dan merupakan
satuansatuan yang masing-masing digunakan secara terpisah, status penguasaannya
sewa serta dibangun dengan menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara dan/atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dengan fungsi utamanya
sebagai hunian.
Dinas Perumahan Dan Permukiman Kota Tangerang, memiliki 3 service
poin atau unit pelaksana yang tersebar pada Kantor Kelurahan, Kecamatan, Kota/Kabupaten Administrasi. Namun dalam penelitian ini,
dikarenakan sistem pengelolaan sumber daya manusia
(Pegawai THL UPT
Rusunawa (Non PNS) Pada Dinas Perumahan Dan Permukiman Kota
Tangerang) Dinas Perumahan Dan Permukiman maka yang dikelola ditingkat
Kota/Kabupaten Administrasi, objek penelitian peneliti hanya Kinerja Pegawai THL UPT Rusunawa (Non PNS) pada Dinas Perumahan Dan Permukiman Kota
Tangerang.
4.1.2
Profil UPT Rusunawa Betet Pada
Dinas Perumahan Dan Permukiman Kota Tangerang
Dinas Perumahan Dan Permukiman Kota Tangerang merupakan salah satu dari 3 Unit pelayanan tingkat
Kota Administrasi di Daerah Khusus Ibukota Tangerang. Terletak pada 606’-6013’ lintang selatan dan 106036’-106042
bujur timur, dengan luas wilayah
164,55 KM2.dengan
jumlah penduduk 1.771.000 jiwa ditahun 2022, dengan kepadatan penduduk
17.782,56 jiwa/km2 , laju pertumbuhan penduduk
1,63 % , laju
pertumbuhan ekonomi 4,31 % , pdrb per kapita 78.585.000, Secara administratif UPT Dinas Perumahan Dan Permukiman Kota Tangerang terbagi atas 3 (unit) :
1. Rusunawa gebang Raya Meliputi. Jl. Pansus RT.002 /
RW.016 Kel.Gebang Raya, Kec.Periuk , Kota
Tangerang, Banten 15132
2. Rusunawa Betet meliputi. Jl.Panunggangan Barat RT.002 / RW.006 Kel.Panunggangan Barat, Kec.Cibodas
Kota Tangerang , Banten 15138
3. Rusunawa Manis jaya meliputi. Jl.Satria Sudirman, RT.001 / RW.004 Kel.Manis Jaya,
Kec.Jatiuwung, Kota Tangerang, Banten 15136.
4.1.3
Visi dan Misi UPT Rusunawa Pada Dinas Perkim Kota Tangerang
1.
Visi
Bersama Mewujudkan Perumahan, Kawasan Permukiman Yang Tertata, Bersih,
Sehat Dan Nyaman Serta Meningkatkan Pelayanan Pertanahan.
2.
Misi
1. Mewujudkan organisasi yang
efesien , tata laksana dan
sumber daya yang profesional.
2. Meningkatkan fasilitas ketersediaan dan
kualitas perumahaan yang terjangkau.
3. Meningkatkan ketersediaan dan kualitas
prasarana dan sarana kawasan permukiman
4. Penanganan sengketa, Konflik dan perkara
pertanahan secara damai, profesional sesuai ketentuan yang berlaku.
4.1.4
Tugas
Pokok Dan Fungsi Serta Tata Kerja UPT Rusunawa Pada Kantor Dinas Perumahan Dan Permukiman Kota Tangerang
1. UPT Rumah Susun Sederhana Sewa mempunyai
tugas melaksanakan sebagian tugas Dinas yang berkenaan dengan pengelolaan Rumah
Susun Sederhana Sewa yang dibangun oleh Pemerintah Daerah atau Pemerintah Pusat
yang diserahkan kepada Pemerintah Daerah.
2. Untuk melaksanakan tugas sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), UPT Rumah Susun Sederhana Sewa memiliki fungsi:
a. pelaksanaan penyewaan Rumah Susun
Sederhana sewa.
b. Pelaksanaan pembinaan penghuni Rumah Susun
Sederhana Sewa.
c. pelaksanaan pengelolaan, pemeliharaan
prasarana dan sarana Rumah Susun Sederhana Sewa.
3. Rincian tugas UPT Rumah Susun Sederhana Sewa
adalah:
a. melakukan penerimaan permohonan penyewaan
atas bagian-bagian satuan Rumah Susun Sederhana Sewa.
b. mengadakan perjanjian penyewaan atas
bagian-bagian satuan rumah rusun sederhana sewa dengan pemohon sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.
c. melakukan pendataan penghuni Rumah Susun
sederhana sewa.
d. menjaga ditaatinya ketentuan-ketentuan
perjanjian penyewaan atas bagian-bagian satuan Rumah Susun Sederhana Sewa.
e. menjaga ketertiban dan keamanan di
lingkungan Rumah Susun Sederhana Sewa.
f.
menjaga
kebersihan dan keindahan di lingkungan Rumah Susun Sederhana Sewa.
g. menjaga berfungsinya prasarana dan sarana
yang ada di Rumah SusunSederhana Sewa
h. melakukan pengelolaan Retribusi
i.
melakukan
monitoring evaluasi, dan pelaporan kegiatan UPT Rumah Susun Sederhana Sewa.
j.
melaksanakan
tugas-tugas kedinasan lainnya sesuai dengan tugasnya.
4. UPT Rumah Susun Sederhana Sewa dipimpin
oleh seorang Kepala UPT yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada
Kepala Dinas melalui Sekretaris.
4.1.5 Struktur Organisasi Dinas
Perumahan Dan Permukiman Kota Tangerang
KEPALA DINAS
SEKRETARIS
SUB. BAG KEUANGAN
SUB. BAG. PERENCANAAN
KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL
BIDANG PERUMAHAN DAN KAWASAN
SUB. BAG. UMUM DAN KEPEGAWAIAN
BIDANG BANGUNAN
BIDANG AIR MINUM DAN AIR LIMBAH
BIDANG PENGAWASAN, PELAYANAN BANGUNAN DAN PERTANAHAN
SEKSI PEMB. PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN
SEKSI PEMBINAAN PERUMAHAN & PERMUKIMAN
SEKSI PENGATURAN ,PEMBERDAYAANDAN PENGAWASAN JASA KONTRUKSI
SEKSI PERENCANAAN TEKNIS
SEKSI PEMBANGUNAN GEDUNG PEMERINTAH
SEKSI PEMELIHARAAN BANGUNAN
SEKSI PEMBANGUNAN DAN PENGEMBANGAN AIR MINUM
SEKSI PEMBANGUNAN DAN PENGEMBANGAN AIR LIMBAH
UPTD
SEKSI PEMBINAAN DAN PENGENDALIAN AIR MINUM DAN AIR LIMBAH
SEKSI PENGAWASAN BANGUNAN
SEKSI PELAYANAN BANGUNAN
SEKSI ADMINISTRASI PERTANAHAN
STRUKTUR ORGANISASI
DINAS PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN
KOTA TANGERANG
(Perwal No.62 Tahun 2019)
|
KEPALA DINAS |
|
SEKRETARIS |
|
SUB. BAG KEUANGAN |
|
SUB. BAG. PERENCANAAN |
|
KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL |
|
BIDANG PERUMAHAN DAN KAWASAN |
|
SUB. BAG. UMUM DAN KEPEGAWAIAN |
|
BIDANG BANGUNAN |
|
BIDANG AIR MINUM DAN AIR LIMBAH |
|
BIDANG PENGAWASAN, PELAYANAN BANGUNAN DAN PERTANAHAN |
|
SEKSI PEMB. PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN |
|
SEKSI PEMBINAAN PERUMAHAN & PERMUKIMAN |
|
SEKSI PENGATURAN ,PEMBERDAYAANDAN PENGAWASAN JASA KONTRUKSI |
|
SEKSI PERENCANAAN TEKNIS |
|
SEKSI PEMBANGUNAN GEDUNG PEMERINTAH |
|
SEKSI PEMELIHARAAN BANGUNAN |
|
SEKSI PEMBANGUNAN DAN PENGEMBANGAN AIR MINUM |
|
SEKSI PEMBANGUNAN DAN PENGEMBANGAN AIR LIMBAH |
|
UPTD |
|
SEKSI PEMBINAAN DAN PENGENDALIAN AIR MINUM DAN AIR LIMBAH |
|
SEKSI PENGAWASAN BANGUNAN |
|
SEKSI PELAYANAN BANGUNAN |
|
SEKSI ADMINISTRASI PERTANAHAN |
|
STRUKTUR ORGANISASI DINAS PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN KOTA TANGERANG (Perwal No.62 Tahun 2019) |
Sumber : UPT Rusunawa Betet Pada Dinas Perumahan Dan Permukiman
Kota Tangerang
Gambar 4.1
Struktur
Organisasi UPT Rusunawa pada
Dinas Perumahan Dan Permukiman Kota Tangerang
a.
Tugas Pokok Pegawai UPT Rusunawa mempunyai Bagian Sub Tata usaha untuk
melaksanakan tugas ketatausahaan
di lingkungan UPT Rumah Rusun Sederhana sewa.
1.
Melaksanakan administrasi umum,
Kepegawaian.
2.
Melaksanakan administrasi
keuangan.
3.
Melakukan penyusunan rencana kegiatan UPT Rumah Susun Sederhana sewa
berdasarkan tugas, permasalahan dan regulasi sebagai bahan penyusunan Rencana
Strategis serta Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan Dinas.
4.
Melakukan pengendalian surat masuk dan keluar
5.
Melakukan pengelolaan arsip.
6.
Melakukan kegiatan kerumah tangga di lingkungan UPT Rumah Susun
Sederhana Sewa.
7.
Melakukan pengurusan kebutuhan perlengkapan kantor UPT Rumah susun
sederhana sewa.
8.
Melakukan pengurusan administrasi
pegawaian UPT Rumah Susun Sederhana Sewa.
9.
Melakukan pengelolaan keuangan UPT Rumah susun Sederhana Sewa.
10.
Melakukan penerimaan dan penyetoran Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah
yang bersumber dari penyewaan Rumah Susun Sewa Sederhana.
11.
Melakukan penyiapan bahan-bahan yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas
kedinasan UPT Rumah Susun Sederhana Sewa dalam rangka penyusunan Laporan Kinerja Instansi
Pemerintah yang berkenaan dengan Dinas dan laporan lainnya.
12.
Melaksanakan tugas-tugas kedinasan lainnya sesuai dengan bidang
tugasnya.
b.
Tugas
Bagian Mekanikal
1.
Intalasi
Listrik dan panel
2.
Pompa
Air Bersih
3.
Plumbing
(Air Bersih dan Sanitasi)
4.
Pemeliharaan
Gedung
c.
Tugas
Bagian Kebersihan
1.
Melaksankan
teknik
2.
Melaksanakan
d.
Tugas
Bagian Keamanan
1.
Melaksanakan
Koordinasi dengan Instansi terkait yang berhubungan dengan Kamtibmas.
2.
Melakukan
Keamanan dan Ketertiban lingkungan.
4.1.6
Lima Komitmen Membangun Aklaqul Karimah
Pegawai UPT Rusunawa Pada Dinas Perumahan dan permukiman Kota Tangerang.
Kami Pegawai Pemerintah Kota
Tangerang Berjanji Kepada Diri Sendiri.
1.
Bertaqwa
Kepada Allah SWT
2.
Bersikap
Jujur , Bertanggung Jawab dan Amanah dalam melaksanakan pelayanan kepada
masyarakat.
3.
Disiplin,
Royalitas, Dedikasi dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat.
4.
Mengedepankan
kepentingan umum diatas kepentingan pribadi dengan menjunjung tinggi aspek
etika moralitas dan propfesional.
5.
Menjalin
persaudaraan silaturahmi dan saling mengingatkan diantara sesama pegawai dalam
berbagai aspek kehidupan.
4.2
Hasil Penelitian
4.2.1
Analisis Deskriptif
1.
Analisis Deskriptif Karakteristik
Responden
Karakterstik responden
dapat disajikan dalam Tabel di bawah ini.
a.
Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 4.1
Karakteristik Responden
Berdasarkan Jenis Kelamin
|
Jenis Kelamin |
|||||
|
|
|
Frequency |
Percent |
Valid Percent |
Cumulative Percent |
|
Valid |
LAKI-LAKI |
29 |
58,0 |
58,0 |
58,0 |
|
|
PEREMPUAN |
21 |
42,0 |
42,0 |
100,0 |
|
|
Total |
50 |
100,0 |
100,0 |
|
Sumber : Data diolah 2023
Berdasarkan data pada Tabel 4.1 di atas,
responden yang berjenis kelamin
laki-laki sebanyak 29 orang atau 58,0 %, sedangkan responden yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 21 orang atau 42,0%.
b. Karakteristik Responden
Berdasarkan Usia.
Tabel 4.2
Karakteristik Responden
Berdasarkan Usia
|
Usia |
|||||
|
|
|
Frequency |
Percent |
Valid Percent |
Cumulative Percent |
|
Valid |
20-25 Tahun |
21 |
42,0 |
42,0 |
42,0 |
|
|
26-35 Tahun |
14 |
27,0 |
28,0 |
70,0 |
|
|
36-45 Tahun |
11 |
22,0 |
22,0 |
92,0 |
|
|
45-50 Tahun |
4 |
8,0 |
8,0 |
100,0 |
|
|
Total |
50 |
100,0 |
100,0 |
|
Sumber: Data diolah, 2023
Berdasarkan data pada Tabel 4.2 di atas,
responden yang berusia antara 20-25
tahun sebanyak 21 orang atau 42,0 % yang berusia antara 26-35 tahun sebanyak 14 orang atau 27,0 %, yang berusia antara
36-45 tahun sebanyak 11 orang atau 22,0 % yang berusia antara 46-50 Tahun sebanyak 4 orang
atau 8,0 %.
c.
Karakteristik Responden
Berdasarkan Pendidikan.
Tabel 4.3
Karakteristik Responden
Berdasarkan Pendidikan
|
Pendidikan |
|||||
|
|
|
Frequency |
Percent |
Valid Percent |
Cumulative Percent |
|
Valid |
SMA Sederajat |
16 |
32,0 |
32,0 |
32,0 |
|
|
Diploma |
6 |
12,0 |
12,0 |
44,0 |
|
|
Sarjana (S1) |
22 |
44,0 |
44,0 |
88,0 |
|
|
Pasca Sarjana (S2) |
6 |
12,0 |
12,0 |
100,0 |
|
|
Total |
50 |
100,0 |
100,0 |
|
Sumber: Data diolah,
2023
Berdasarkan data pada Tabel 4.3 di atas, responden
yang berpendidikan ,SMA Sederajat sebanyak 16 orang atau 32,0% . yanag berpendidikan Diploma sebanyak 6 orang atau 12,0%, yang berpendidikan sarjana S1 sebanyak 22 orang atau 44,0%, yang berpendidikan pasca sarjana S2 sebanyak 6 atau 12,0%.
c. Karakteristik Responden
Berdasarkan Lama Bekerja.
Tabel 4.4
Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Bekerja
|
Lama Bekerja |
|||||
|
|
|
Frequency |
Percent |
Valid Percent |
Cumulative Percent |
|
Valid |
< 2 Tahun |
17 |
34,0 |
34,0 |
34,0 |
|
|
3-5 Tahun |
19 |
38,0 |
38,0 |
72,0 |
|
|
5-10 Tahun |
10 |
20,0 |
20,0 |
92,0 |
|
|
> 10 Tahun |
4 |
8,0 |
8,0 |
100,0 |
|
|
Total |
50 |
100,0 |
100,0 |
|
Sumber: Data diolah, 2023
Berdasarkan data pada Tabel 4.4 di atas,
responden yang bekerja kurang dari 2 tahun sebanyak 17 orang atau 34,0%, yang bekerja antara 3-5 tahun sebanyak
19 orang atau 38,0%, yang bekerja antara 5-10 tahun sebanyak 10 orang atau 20,0% , yang bekerja
antara >10 tahun sebanyak 4 orang atau 8,0%.
2.
Analisis Deskriptif Penilaian atau Jawaban Responden
Variabel yang digunakan dalam penelitian
ini adalah motivasi (X1), Disiplin Kerja (X2)
dan kinerja Pegawai (Y). Dalam menganalisis, penulis menggunakan
analisa deskriptif dengan memberikan gambaran mengenai hasil penelitian, bagaimana
karakteristik subyek penelitian sehubungan dengan
variabel yang diteliti. Sebelum dilakukan analisis, terlebih dahulu dilakukan
pembobotan terhadap skor masing-masing variabel
dengan memberikan skor total dengan jumlah item dari variabel
yang dibobot, melalui
pertanyaaan yang diberikan peneliti dalam kuesioner. Pembobotan dalam penelitian ini menggunakan metode pengukuran Likert, dimana pernyataan mengandung 5 alternatif jawaban dengan menentukan
rentang skala dari setiap variabel
dapat ditetapkan interval
untuk memberikan interpretasi berdasar baik dan tidak baik, yaitu sebagai
berikut:
Tabel 4.5
Tabel Interval Tanggapan Responden
|
Rentang Skala |
Keterangan / Kriteria |
Disingkat |
|
1,00 – 1,79 |
Sangat Tidak
Setuju |
STS |
|
1,80 – 2,59 |
Tidak Setuju |
TS |
|
2,60 – 3,39 |
Kurang Setuju |
KS |
|
3,40 – 4,19 |
Setuju |
S |
|
4,19 – 5,00 |
Sangat Setuju |
SS |
Sumber: Sugiyono
(2018:95)
Berdasarkan pada kriteria
di atas, maka dapat dilakukan
penilaian atau jawaban responden menurut item pernyataan sebagai berikut:
a. Penilaian Responden
Variabel Motivasi (X1)
Kriteria
obyek yang diteliti
berdasarkan pada tanggapan responden pada butir pertanyaan variabel Motivasi Kerja (X1)
sebagai berikut:
Tabel 4.6
Jawaban Responden Berdasarkan Variabel Motivasi Kerja (X1)
|
No |
Pernyataan |
Kriteria Jawaban |
Total |
Jumlah |
Mean Score |
Ket |
||||||||||||
|
SS |
S |
KS |
TS |
STS |
||||||||||||||
|
5 |
4 |
3 |
2 |
1 |
||||||||||||||
|
1. Kebutuhan Akan Prestasi |
||||||||||||||||||
|
1 |
Hasil prestasi kerja yang saya hasilkan
selalu mendapatkan pujian dan apresiasi dari atasan |
27 |
22 |
0 |
0 |
1 |
224 |
50 |
4,48 |
SS |
||||||||
|
2 |
Saya selalu mendapatkan penghargaan dari
atasan atas prestasi kerja yang saya capai |
24 |
25 |
1 |
0 |
0 |
223 |
50 |
4,46 |
SS |
||||||||
|
3 |
Pemberian penghargaan bagi pegawai yang
berprestasi akan memberikan motivasi kerja bagi pegawai untuk meningkatkan
prestasi kerjanya |
30 |
20 |
0 |
0 |
0 |
230 |
50 |
4,6 |
SS |
||||||||
|
Jumlah |
677 |
150 |
4,51 |
SS |
||||||||||||||
|
2. Kebutuhan Akan Kekuasaan |
||||||||||||||||||
|
4 |
Adanya
jenjang karir membuat saya selalu ingin bekerja lebih baik dari rekan kerja
saya |
25 |
15 |
4 |
6 |
0 |
209 |
50 |
4,18 |
SS |
||||||||
|
5 |
Makin tinggi posisi saya maka makin
besar pula gaji dan fasilitas yang saya dapat dari Organisasi |
32 |
17 |
1 |
0 |
0 |
231 |
50 |
4,62 |
SS |
||||||||
|
6 |
saya mendapatkan kesempatan ikut
berpartisipasi dalam menentukan tujuan yang ingin dicapai oleh atasan |
28 |
21 |
0 |
0 |
1 |
225 |
50 |
4,5 |
SS |
||||||||
|
Jumlah |
665 |
150 |
4,43 |
SS |
||||||||||||||
|
3. Kebutuhan Untuk Berafiliasi |
||||||||||||||||||
|
7 |
Jalinan
kerja sama yang baik antara pegawai membuat saya merasa mudah dalam bekerja |
29 |
21 |
0 |
0 |
0 |
229 |
50 |
4,58 |
SS |
||||||||
|
8 |
Hubungan interaksi social sesama pegawai
membantu saya dalam bekerja |
30 |
19 |
1 |
0 |
0 |
229 |
50 |
4,58 |
SS |
||||||||
|
9 |
Budaya kekeluargaan ditempat saya
bekerja membuat saya merasa nyaman dalam bekerja |
15 |
28 |
7 |
0 |
0 |
208 |
50 |
4,16 |
S |
||||||||
|
10 |
saya termotivasi dalam bekerja dan dapat
menyelesaikan tugas dengan baik karena tidak adanya diskriminasi yang saya
alami diorganisasi |
23 |
26 |
1 |
0 |
0 |
222 |
50 |
4,44 |
SS |
||||||||
|
Jumlah |
888 |
200 |
4,44 |
SS |
||||||||||||||
|
Jumlah |
265 |
212 |
15 |
6 |
2 |
2232 |
500 |
Rata2 4,46 |
|
|||||||||
|
Persentase (%) |
53% |
42,4% |
3,% |
1,2% |
0.4% |
100% |
Rata2 |
|||||||||||
Sumber : Data diolah 2023
Berdasarkan data pada tabel 4.6 di atas, dapat diketahui
bahwa Motivasi Kerja memiliki
nilai tertinggi sebesar 4,62 yaitu pada kuisioner nomor 5 : Makin
tinggi posisi saya maka makin besar pula gaji dan fasilitas yang saya dapat
dari Organisasi. Sedangkan pernyataan terendah sebesar 4.16 ada pada kuisioner nomor 9 yakni Budaya
kekeluargaan ditempat saya bekerja membuat saya merasa nyaman dalam bekerja.
Maka pada variabel Motivasi Kerja diperoleh rata-rata
skor 4,46 termasuk pada rentang
skala 4,19 – 5,00 dengan kriteria
Sangat
setuju, artinya mayoritas responden memberikan jawaban Sangat setuju.
b. Penilaian Responden
Variabel Disiplin Kerja (X2)
Kriteria obyek yang diteliti
berdasarkan pada tanggapan responden pada butir pertanyaan variabel Disiplin Kerja (X2)
sebagai berikut:
Tabel 4.7
Jawaban Responden Berdasar Variabel Disiplin
Kerja (X2)
|
No |
Pernyataan |
Kriteria Jawaban |
Total |
Jumlah |
Mean Score |
Ket |
||||||||||||
|
SS |
S |
KS |
TS |
STS |
||||||||||||||
|
5 |
4 |
3 |
2 |
1 |
||||||||||||||
|
1. Tingkat Kehadiran |
||||||||||||||||||
|
1 |
Saya hadir dan pulang kerja sesuai
dengan jam yang telah di tentukan perusahaan |
27 |
23 |
0 |
0 |
0 |
227 |
50 |
4,54 |
SS |
||||||||
|
2 |
Jam kerja yang di tetapkan perusahaan
membuat saya nyaman di tempat kerja |
25 |
25 |
0 |
0 |
0 |
225 |
50 |
4,5 |
SS |
||||||||
|
3 |
Saya selalu hadir setiap hari kerja
(kecuali libur) |
22 |
26 |
2 |
0 |
0 |
220 |
50 |
4,4 |
SS |
||||||||
|
Jumlah |
672 |
150 |
4,48 |
SS |
||||||||||||||
|
2. Tata Cara Kerja |
||||||||||||||||||
|
4 |
Saya
berkerja mengunakan tenaga sehingga saya merasa lelah. |
22 |
26 |
1 |
0 |
2 |
214 |
50 |
4,28 |
SS |
||||||||
|
5 |
Saya mampu mengunakan peralatan dengan
baik sesuai standar yang di berikan perusahaan |
23 |
21 |
2 |
4 |
0 |
213 |
50 |
4,26 |
SS |
||||||||
|
Jumlah |
427 |
100 |
4,27 |
SS |
||||||||||||||
|
3. Ketaatan Pada Atasan |
||||||||||||||||||
|
6 |
Saya
selau menawarkan bantuan pekerjaan jika atasan terlihat membutuhkan bantuan. |
22 |
22 |
2 |
4 |
0 |
212 |
50 |
4,24 |
SS |
||||||||
|
Jumlah |
212 |
50 |
4,24 |
SS |
||||||||||||||
|
4. Kesadaran Kerja |
||||||||||||||||||
|
7 |
Saya sadar dalam mematuhi peraturan yang
berlaku di tempat saya bekerja |
23 |
22 |
5 |
0 |
0 |
218 |
50 |
4,36 |
SS |
||||||||
|
8 |
Saya memakai pakaian kerja yang rapih
sesuai dengan peraturan dinas. |
20 |
25 |
5 |
0 |
0 |
215 |
50 |
4,3 |
SS |
||||||||
|
Jumlah |
433 |
100 |
4,33 |
SS |
||||||||||||||
|
5. Tanggung Jawab |
||||||||||||||||||
|
9 |
Tugas pekerjaan dan tanggung jawab yang
diberikan atasan sesuai dengan pendidikan dan kemampuan Saya |
23 |
21 |
2 |
4 |
0 |
213 |
50 |
4,26 |
SS |
||||||||
|
10 |
saya selalu bertanggung jawab atas
kesalahan yang terjadi pada pekerjaan |
17 |
30 |
3 |
0 |
0 |
214 |
50 |
4,28 |
S |
||||||||
|
Jumlah |
427 |
100 |
4,27 |
SS |
||||||||||||||
|
Jumlah |
222 |
242 |
22 |
13 |
1 |
2171 |
500 |
Rata2 4,34 |
|
|||||||||
|
Persentase (%) |
44,4% |
48,4% |
4,4% |
2,6% |
0,2% |
100% |
Rata2 |
|||||||||||
Sumber : Data diolah 2023
Berdasarkan data pada tabel 4.7, di atas, dapat
diketahui bahwa Disiplin Kerja
memiliki nilai tertinggi sebesar 4,54 yaitu pada kuisioner nomor 1 : Saya hadir dan pulang kerja sesuai dengan
jam yang telah di tentukan perusahaan. Sedangkan pernyataan terendah ada pada kuisioner nomor 6 yaitu sebesar 4,24. yakni Saya selau menawarkan bantuan pekerjaan jika atasan
terlihat membutuhkan bantuan. Maka pada variable Disiplin Kerja
diperoleh rata-rata skor 4,34 termasuk pada
rentang skala 4,19 – 5,00 dengan kriteria Sangat setuju,
artinya mayoritas responden memberikan jawaban Sangat setuju.
c. Penilaian Responden
Variabel Kinerja Pegawai (Y)
Kriteria obyek yang diteliti
berdasarkan pada tanggapan responden pada butir pertanyaan variabel Kinerja Pegawai (Y)
sebagai berikut :
Tabel 4.8
Jawaban Responden Berdasar Variabel Kinerja
Pegawai (Y)
|
No |
Pernyataan |
Kriteria Jawaban |
Total |
Jumlah |
Mean Score |
Ket |
||||||||||||
|
SS |
S |
KS |
TS |
STS |
||||||||||||||
|
5 |
4 |
3 |
2 |
1 |
||||||||||||||
|
1. Kualitas |
||||||||||||||||||
|
1 |
Saya sangat kurang
dalam menyelesaikan pekerjaan dengan ouput yang baik |
12 |
31 |
5 |
2 |
2 |
197 |
50 |
3,94 |
S |
||||||||
|
2 |
Saya sudah memiliki
keterampilan yang baik dan mampu menyelesaikan pekerjaan dengan tingkat
ketelitian yang tinggi |
20 |
25 |
5 |
0 |
0 |
215 |
50 |
4,3 |
SS |
||||||||
|
3 |
Standar kualitas
kerja yang telah ditetapkan oleh perusahaan dapat saya pahami dan capai
dengan baik |
24 |
25 |
1 |
0 |
1 |
220 |
50 |
4,4 |
SS |
||||||||
|
Jumlah |
632 |
150 |
4,21 |
SS |
||||||||||||||
|
2. Kuantitas |
||||||||||||||||||
|
4 |
Saya sudah disiplin dan selalu menyelesaikan pekerjaan
dengan tepat waktu |
23 |
27 |
0 |
0 |
0 |
223 |
50 |
4,46 |
SS |
||||||||
|
5 |
Saya selalu menetapkan
target dalam bekerja |
20 |
26 |
3 |
1 |
0 |
215 |
50 |
4,3 |
SS |
||||||||
|
6 |
Hasil pekerjaan
saya lebih baik bila dibandingkan dengan waktu yang lalu |
19 |
25 |
6 |
0 |
0 |
213 |
50 |
4,26 |
SS |
||||||||
|
Jumlah |
651 |
150 |
4,34 |
SS |
||||||||||||||
|
3. Tanggung
jawab |
||||||||||||||||||
|
7 |
Saya memilik
komitmen dengan pekerjaan yang sudah ditugaskan kepadanya |
24 |
26 |
0 |
0 |
0 |
224 |
50 |
4,48 |
SS |
||||||||
|
8 |
Saya dapat
menyelesaikan pekerjaan sebelum batas waktu yang ditentukan. |
21 |
22 |
7 |
0 |
0 |
214 |
50 |
4,28 |
SS |
||||||||
|
Jumlah |
438 |
100 |
4,38 |
SS |
||||||||||||||
|
4. Pelaksana
Tugas |
||||||||||||||||||
|
9 |
Saya dapat
melaksanakan pekerjaan bersama teamwork dengan baik |
23 |
27 |
0 |
0 |
0 |
223 |
50 |
4,46 |
SS |
||||||||
|
10 |
Saya melaksanakan
tugas dan pekerjaan sesuai dengan yang ditetapkan perusahaan |
20 |
25 |
5 |
0 |
0 |
215 |
50 |
4,3 |
SS |
||||||||
|
Jumlah |
438 |
100 |
4,38 |
SS |
||||||||||||||
|
Jumlah |
206 |
259 |
32 |
3 |
3 |
2159 |
500 |
Rata2 4,31 |
|
|||||||||
|
Persentase (%) |
41,2% |
51,8% |
6,4% |
0,6% |
0,6% |
100% |
Rata2 |
|||||||||||
Sumber : Data diolah 2023
Berdasarkan data pada table 4.8, di atas, dapat diketahui bahwa Kinerja
Pegawai memiliki nilai tertinggi sebesar
4.48 yaitu pada kuisioner nomor 7 : Saya memilik komitmen dengan pekerjaan yang
sudah ditugaskan kepadanya Sedangkan pernyataan terendah ada pada kuisioner nomor 1 yaitu sebesar 3,94 Pada kuisioner nomor 1 yakni Saya sangat kurang dalam
menyelesaikan pekerjaan dengan output yang baik.
Maka pada variable Kinerja Pegawai diperoleh rata-rata skor 4,31 termasuk pada rentang skala 4,19
– 5,00 dengan kriteria sangat setuju, artinya mayoritas
responden memberikan jawaban sangat setuju.
4.2.2 Pengujian Instrumen Data Penelitian
Pengujian instrumen data diperlukan
untuk mengetahui bahwa variabel yang
diteliti memiliki fungsi sebagai alat pembuktian meliputi uji validitas dan uji reliabilitas
1.
Uji Validitas Instrumen
Uji validitas dimaksudkan untuk menguji
pernyataan pada setiap butir pertanyaan
pada kuesioner valid atau tidak. Untuk mengolah uji validitas, peneliti
menggunakan sofware SPSS
Versi 26 dengan
kriteria sebagai berikut.
a.
Jika nilai r hitung > r tabel, maka instrumen valid.
b.
Jika nilai
r hitung < r tabel, maka instrumen tidak valid.
Nilai r hitung diperoleh dari hasil
perhitungan dengan menggunakan program aplikasi SPSS 26. Sedangkan
untuk nilai r tabel didapat
dari tabel t-product
moment yang di dalam
penelitian ini mengambil tingkat signifikansi untuk uji dua arah dengan taraf
signifikansi 5%, dengan
jumlah data (n)= 50, dan di dapat df = 50 – 2 = 48, maka di dapat r tabel
sebesar 0.279. Hasil dari uji validitas dapat di lihat di tabel dibawah ini
Tabel 4.9
Hasil Uji Validitas Berdasarkan Variabel Motivasi Kerja (X1)
|
No |
Kuisioner |
R hitung |
r tabel |
Keputusan |
|
1 |
Hasil prestasi kerja
yang saya hasilkan selalu mendapatkan pujian dan apresiasi dari atasan |
0.740 |
0.279 |
Valid |
|
2 |
Saya selalu mendapatkan
penghargaan dari atasan atas prestasi kerja yang saya capai |
0.885 |
0.279 |
Valid |
|
3 |
Pemberian penghargaan
bagi pegawai yang berprestasi akan memberikan motivasi kerja bagi pegawai
untuk meningkatkan prestasi kerjanya |
0.544 |
0.279 |
Valid |
|
4 |
Adanya jenjang karir
membuat saya selalu ingin bekerja lebih baik dari
rekan kerja saya |
0.510 |
0.279 |
Valid |
|
5 |
Makin tinggi posisi saya maka makin besar pula gaji dan fasilitas yang saya dapat dari Organisasi |
0.640 |
0.279 |
Valid |
|
6 |
saya mendapatkan kesempatan ikut berpartisipasi dalam
menentukan tujuan yang ingin dicapai oleh atasan |
0.742 |
0.279 |
Valid |
|
7 |
Jalinan kerja sama yang baik
antara pegawai membuat saya merasa mudah dalam bekerja |
0.838 |
0.279 |
Valid |
|
8 |
Hubungan
interaksi social sesama
pegawai
membantu saya dalam bekerja |
0.731 |
0.279 |
Valid |
|
9 |
Budaya kekeluargaan ditempat saya bekerja membuat saya merasa nyaman dalam bekerja |
0.570 |
0.279 |
Valid |
|
10 |
saya termotivasi dalam bekerja dan dapat menyelesaikan tugas dengan
baik karena tidak adanya diskriminasi yang saya alami diorganisasi |
0.848 |
0.279 |
Valid |
Sumber:
Data diolah, 2023
Berdasarkan data Tabel 4.9 di atas, variabel Motivasi
Kerja (X1) diperoleh nilai r hitung > r tabel (0.279), dengan demikian
maka semua item kuesioner dinyatakan
valid. Untuk itu kuesioner yang digunakan layak untuk diolah sebagai data penelitian
Tabel 4.10
Hasil Uji Validitas Berdasarkan Variabel Disiplin Kerja (X2).
|
No |
Kuisioner |
r hitung |
R tabel |
Keputusan |
|
1 |
Saya hadir dan pulang
kerja sesuai dengan jam yang telah di tentukan perusahaan |
0.553 |
0.279 |
Valid |
|
2 |
Jam kerja yang di tetapkan perusahaan membuat saya nyaman di tempat kerja |
0.689 |
0.279 |
Valid |
|
3 |
Saya selalu hadir
setiap hari kerja (kecuali libur) |
0.442 |
0.279 |
Valid |
|
4 |
Saya berkerja
mengunakan tenaga sehingga saya merasa lelah. |
0.293 |
0.279 |
Valid |
|
5 |
Saya mampu mengunakan
peralatan dengan baik sesuai standar yang di berikan perusahaan |
0.906 |
0.279 |
Valid |
|
6 |
Saya selalu menawarkan bantuan pekerjaan jika atasan
terlihat membutuhkan bantuan. |
0.882 |
0.279 |
Valid |
|
7 |
Saya sadar dalam mematuhi peraturan yang berlaku di tempat saya bekerja |
0.596 |
0.279 |
Valid |
|
8 |
Saya memakai pakaian kerja yang rapih sesuai dengan peraturan dinas. |
0.798 |
0.279 |
Valid |
|
9 |
Tugas pekerjaan dan tanggung jawab yang diberikan atasan sesuai dengan pendidikan dan kemampuan Saya |
0.906 |
0.279 |
Valid |
|
10 |
saya selalu bertanggung
jawab atas kesalahan yang terjadi pada
pekerjaan |
0.552 |
0.279 |
Valid |
Sumber:
Data diolah, 2023
Berdasarkan data Tabel 4.10 di atas, variabel Disiplin
Kerja (X2) diperoleh nilai r hitung > r tabel (0.279), dengan demikian
maka semua item kuesioner dinyatakan
valid. Untuk itu kuesioner yang digunakan layak untuk diolah sebagai data penelitian.
Tabel 4.11
Hasil Uji Validitas Berdasarkan Kinerja Pegawai (Y)
|
No |
Kuisioner |
r hitung |
r tabel |
Keputusan |
|
1 |
Saya sangat kurang dalam menyelesaikan pekerjaan dengan output
yang baik |
0,500 |
0.279 |
Valid |
|
2 |
Saya sudah memiliki keterampilan yang baik dan mampu menyelesaikan pekerjaan dengan tingkat ketelitian
yang tinggi |
0,721 |
0.279 |
Valid |
|
3 |
Standar kualitas kerja
yang telah ditetapkan oleh perusahaan dapat
saya pahami dan capai dengan
baik |
0,460 |
0.279 |
Valid |
|
4 |
Saya sudah disiplin dan Selalu menyelesaikan pekerjaan dengan tepat waktu |
0,836 |
0.279 |
Valid |
|
5 |
Saya selalu menetapkan target dalam
Bekerja |
0,610 |
0.279 |
Valid |
|
6 |
Hasil pekerjaan saya lebih baik bila dibandingkan dengan waktu
yang lalu |
0,664 |
0.279 |
Valid |
|
7 |
Saya memilik komitmen dengan pekerjaan yang sudah ditugaskan
kepadanya |
0,832 |
0.279 |
Valid |
|
8 |
Saya dapat menyelesaikan pekerjaan sebelum batas waktu yang ditentukan |
0,856 |
0.279 |
Valid |
|
9 |
Saya dapat melaksanakan pekerjaan bersama teamwork dengan baik |
0,779 |
0.279 |
Valid |
|
10 |
Saya melaksanakan tugas dan pekerjaan sesuai dengan yang ditetapkan perusahaan |
0,780 |
0.279 |
Valid |
Sumber:
Data diolah, 2023
Berdasarkan data Tabel 4.11 di atas, variabel
Kinerja Pegawai (Y) diperoleh nilai r
hitung > r tabel (0.279), dengan demikian maka semua item kuesioner
dinyatakan valid. Untuk itu kuesioner yang digunakan layak untuk diolah
sebagai data penelitian.
2. Uji Reliabilitas Instrumen
Pengujian reliabilitas dimaksudkan untuk
menguji suatu kuesioner reliabel atau
handal atau tidak. Menurut Ghozali (2017:47) “uji Reliabilitas adalah alat untuk mengukur suatu kuesioner
yang merupakan indikator dari variabel
atau konstruk. Suatu kuesioner dikatakan reliabel
atau handal jika jawaban
seseorang terhadap pernyataan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu”.
Adapun kriteria atau ketentuan dalam memutuskan pernyataan tersebut reliabel atau tidak, berikut ini untuk ketentuannya:
a.
Jika nilai cronbatch alpha > 0,600,
maka instrumen reliabel.
b.
Jika nilai
cronbatch alpha< 0,600, maka instrumen tidak reliabel.
Hasil uji reliabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan software statistical package for social science (SPSS) for window versi 26, yang hasilnya sebagai berikut:
Tabel 4.12.
Hasil Uji Reliabilitas Variabel
Independen dan Dependen
|
Variabel |
Cronbatch Alpha |
Standar Cronbatch Alpha |
Keputusan |
|
Motivasi Kerja
(X1) |
0.770 |
0.600 |
Reliabel |
|
Disiplin Kerja
(X2) |
0.768 |
0.600 |
Reliabel |
|
Kinerja Pegawai
(Y) |
0.770 |
0.600 |
Reliabel |
Sumber: Data diolah, 2023
Berdasarkan
hasil pengujian pada Tabel 4.12 di atas, menunjukkan
bahwa variabel Motivasi
Kerja (X1) , Disiplin Kerja (X2) dan Kinerja Pegawai (Y) dinyatakan reliabel, hal itu
dibuktikan dengan masing-masing variabel memiliki nilai Chronbach Alpha lebih besar dari 0,600
4.2.3
Pengujian Asumsi
Klasik.
Uji asumsi klasik digunakan untuk mengetahui ketepatan
data, atau keberartian hubungan antara variabel
independen dengan variabel
dependen sehingga hasil
analisis dapat diinterpretasikan dengan lebih akurat,
efisien, dan terhindar dari
kelemahan-kelemahan yang terjadi
karena masih adanya gejala- gejala asumsi klasik atau layak atau tidak
data yang dipakai dilanjutkan sebagai data penelitian. Pengujian dilakukan dengan
menggunakan program SPSS Versi 26. Dalam penelitian
ini uji asumsi klasik yang dilakukan adalah terdiri atas uji normalitas, uji multikolinearitas, dan uji heterokedastisitas.
1. Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk menguji
apakah dalam model regresi, variabel dependen
dan variabel independen berdistribusi normal atau berdistribusi
tidak normal. Model regresi yang baik
adalah distribusi data normal atau
mendekati normal. Untuk memastikan asumsi bahwa persamaan tersebut
berdistribusi normal dilakukan
melalui pendekatan alat ukur perhitungan residual variabel dependen.
Uji Normalitas dalam penelitian ini menggunakan Kolmogorov- Smirnov Test dengan syarat significancy α > 0.050. Adapun hasil uji normalitas dengan Kolmogorov-Smirnov sebagai berikut.
a.
Jika significancy > 0.050, maka data dinyatakan normal.
b. Jika significancy <
0.050, maka data dinyatakan tidak normal.
Adapun hasil uji normalitas dengan Kolmogorov-Smirnov sebagai berikut.
Tabel 4.13
Hasil Uji Normalitas Dengan Kolmogorov-Smirnov Test
|
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test |
||
|
|
Unstandardized Residual |
|
|
N |
50 |
|
|
Normal
Parametersa,b |
Mean |
.0000000 |
|
Std.
Deviation |
3.69809940 |
|
|
Most
Extreme Differences |
Absolute |
.055 |
|
Positive |
.055 |
|
|
Negative |
-.053 |
|
|
Test
Statistic |
.055 |
|
|
Asymp.
Sig. (2-tailed) |
.200c,d |
|
|
a.
Test distribution is Normal. |
||
|
b.
Calculated from data. |
||
|
c.
Lilliefors Significance Correction. |
||
|
d.
This is a lower bound of the true significance. |
||
Sumber: Data diolah,
2023
Berdasarkan hasil pengujian pada tabel 4.13 di atas, diperoleh nilai signifikansi α = 0,200 dimana nilai tersebut lebih besar dari nilai α = 0,050 atau (0,200 > 0,050). Dengan
demikian maka asumsi distribusi persamaan pada uji ini adalah normal.
Uji normalitas juga dilakukan dengan
menggunakan grafik probability plot dimana residual
variabel dapat dideteksi
dengan melihat penyebaran titik-titik residual mengikuti arah garis diagonal, dan hal
itu sesuai dengan hasil diagram
penyebaran yang diolah dengan SPSS Versi 26 seperti
pada gambar di bawah ini.
Gambar
4.2
P-P Plot
Uji Normalitas – Diagram Penyebaran Titik Residual
Sumber:
Data Primer diolah
Pada gambar 4.2 di atas dapat dilihat
bahwa grafik normal probability plot menunjukkan pola grafik yang
normal. Hal ini terlihat dari titik yang menyebar disekitar
garis diagonal dan penyebarannya mengikuti
garis diagonal. Oleh karena
ini dapat disimpulkan bahwa model regresi memenuhi asumsi normalitas.
2. Uji Multikolinearitas
Uji mutlikolinearitas dilakukan untuk
meyakini bahwa antarvariabel bebas
tidak memiliki multikolinearitas atau tidak memiliki hubungan korelasi antara variabel independen. Model regresi
yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi
di antara variabel independen. Uji ini dapat dilakukan dengan melihat nilai Tolerance Value dan Variance
Inflation Factor (VIF). Adapun sebagai prasyarat adalah sebagai berikut.
a.
Jika nilai VIF > 10 dan nilai tolerance value > 1
maka terjadi gejala
multikoliniearitas.
b.
Jika nilai VIF < 10 dan nilai tolerance value < 1 maka tidak
terjadi gejala multikoliniearitas.
Adapun hasil uji dengan menggunakan SPSS Versi 26 sebagai berikut.
Tabel 4.14
Hasil Pengujian Multikolinearitas Dengan Collinearity Statistic
|
Coefficientsa |
||||||||
|
Model |
Unstandardized Coefficients |
Standardized Coefficients |
t |
Sig. |
Collinearity Statistics |
|||
|
B |
Std. Error |
Beta |
Tolerance |
VIF |
||||
|
1 |
(Constant) |
13.418 |
5.785 |
|
2.320 |
.025 |
|
|
|
Motivasi
Kerja |
.234 |
.141 |
.225 |
1.659 |
.104 |
.713 |
1.402 |
|
|
Disiplin
Kerja |
.445 |
.129 |
.468 |
3.449 |
.001 |
.713 |
1.402 |
|
|
a.
Dependent Variable: Kinerja Pegawai |
||||||||
Sumber:
Data diolah, 2023
Berdasarkan hasil pengujian
multikolinieritas pada Tabel 4.14 di atas diperoleh
nilai tolerance variabel Motivasi
Kerja sebesar 0,713 dan Disiplin Kerja
sebesar 0,713 dimana kedua nilai tersebut kurang dari 1, dan nilai
Variance Inflation Factor (VIF)
variabel Disiplin Kerja sebesar 1,402 serta variabel Motivasi Kerja sebesar 1,402 dimana nilai tersebut kurang
dari 10 Dengan demikian model regresi
ini dinyatakan tidak ada gangguan
multikolinearitas.
3.
Uji Heteroskedastisitas
Pengujian heteroskedastisitas dimaksudkan untuk menguji apakah dalam
sebuah model regresi terjadi ketidaksamaan varians residual. Salah satu cara untuk mendeteksi ada tidaknya
heteroskedastisitas adalah dengan uji Glejser dimana hasil uji ini dapat
dilihat apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian
dari suatu residual
pengamatan ke pengamatan lain.
Adapun
ketentuan terjadi dan tidak terjadi
gangguan heteroskedastisitas adalah sebagai berikut.
a.
Jika variabel independen (X) memiliki nilai signifikansi (Sig.)
< 0,05, maka
terjadi gangguan
heteroskedastisitas.
b.
Jika variabel independent (X) memiliki nilai signifikansi (Sig.)
> 0,05, maka tidak
terjadi gangguan heteroskedastisitas.
Adapun hasil uji heteroskedastisitas adalah
sebagai berikut.
Tabel 4.15
Hasil Pengujian Heteroskesdastisitas Dengan Uji Glejser
|
Coefficientsa |
||||||
|
Model |
Unstandardized Coefficients |
Standardized Coefficients |
T |
Sig. |
||
|
B |
Std. Error |
Beta |
||||
|
1 |
(Constant) |
-5.655 |
3.009 |
|
-1.879 |
.066 |
|
Motivasi
Kerja |
.050 |
.073 |
.107 |
.683 |
.498 |
|
|
Disiplin
Kerja |
.148 |
.067 |
.346 |
2.203 |
.032 |
|
|
a.
Dependent Variable: RES2 |
||||||
Sumber: Data diolah,
2023
Berdasarkan hasil pengujian pada Tabel 4.15 di atas, glejser test model pada
variabel Motivasi Kerja (X1) diperoleh
nilai probability signifikansi (Sig.) sebesar 0,498 dan Disiplin Kerja (X2) diperoleh
nilai probability signifikansi (Sig.)
sebesar 0,032 dimana keduanya nilai signifikansi (Sig.) >
0,05. Dengan demikian regression model pada
data ini tidak ada gangguan
heteroskesdastisitas, sehingga model regresi ini layak dipakai sebagai data penelitian. Pengujian
juga dapat dilakukan
dengan melihat grafik scatter plot antara nilai prediksi
variabel terikat (ZPRED) dan nilai residualnya (SRESID) dengan
ketentuan sebagai berikut.
a Jika titik-titik membentuk pola tertentu seperti gelombang
besar melebar dan menyempit maka telah terjadi
gangguan heteroskedastisitas.
b Jika titik-titik menyebar tanpa membentuk
pola tertentu, maka tidak terjadi
gangguan heteroskedastisitas.
Adapun hasil
uji heteroskedastisitas adalah
sebagai berikut.
Gambar 4.3
Grafik Scatter
Plot Hasil Uji Heteroskedastisitas
Sumber: Data diolah, 2023
Berdasarkan hasil gambar 4.3 di atas,
titik-titik pada grafik scatter plot tidak mempunyai pola penyebaran yang
jelas atau tidak membentuk pola-pola tertentu. Dengan demikian disimpulkan tidak terdapat gangguan
heteroskedastisitas pada model regresi sehingga
model regresi ini layak dipakai.
4.2.4
Analisis Kuantitatif
Analisis kuantitatif dimaksudkan untuk
mengetahui besaran pengaruh dan menganalisis signifikansi dari perngaruh tersebut.
Pada analisis ini dilakukan terhadap
pengaruh dari 2 variabel bebas terhadap variabel terikat.
1.
Analisis Regresi
Linier berganda.
Uji regresi ini dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh variabel X1 dan X2 terhadap
variabel Y secara simultan.
Berikut ini hasil pengolahan regresi
dengan SPSS Versi 26 yang dapat dilihat pada Tabel 4.16 berikut.
Tabel 4.16
Hasil Pengujian Regresi Berganda
Variabel Motivasi Kerja (X1)
dan Disiplin Kerja (X2)
Terhadap Kinerja (Y)
|
Coefficientsa |
||||||
|
Model |
Unstandardized Coefficients |
Standardized Coefficients |
T |
Sig. |
||
|
B |
Std. Error |
Beta |
||||
|
1 |
(Constant) |
13.418 |
5.785 |
|
2.320 |
.025 |
|
Motivasi
Kerja |
.234 |
.141 |
.225 |
1.659 |
.104 |
|
|
Disiplin
Kerja |
.445 |
.129 |
.468 |
3.449 |
.001 |
|
|
a.
Dependent Variable: Kinerja Pegawai |
||||||
Sumber: Data diolah,
2023
Berdasarkan hasil analisis perhitungan
regresi pada Tabel 4.16 di atas, maka dapat diperoleh persamaan
regresi Y = 13,418+0,234+0,445. Dari persamaan
di atas maka dapat disimpulkan
sebagai berikut.
a.
Nilai konstanta memiliki nilai
positif sebesar 13,418. Tanda positif artinya menunjukkan pengaruh
yang searah antara variabel independen dan variabel dependen.
Hal ini menunjukkan bahwa jika semua variabel
independen yang meliputi Motivasi Kerja (X1) dan Disiplin
Kerja (X2) bernilai 0
persen atau tidak mengalami perubahan, maka nilai Kinerja Kerja (Y) adalah 13,418.
b.
Nilai koefisien regresi untuk
variabel Motivasi Kerja (X1)
yaitu sebesar 0,234. Nilai tersebut menunjukkan pengaruh positif antara variabel Motivasi Kerja dan Kinerja Kerja. Hal ini
artinya jika variabel Motivasi Kerja
mengalami kenaikan sebesar 1%, maka sebaliknya variabel Kinerja Kerja akan mengalami penurunan sebesar
0,234. Dengan asumsi bahwa
variabel lainnya tetap konstan.
c.
Nilai koefisien regresi untuk
variabel Disiplin Kerja (X2) memiliki nilai positif sebesar 0,445.
Hal ini menunjukkan jika Disiplin
Kerja mengalami kenaikan 1%, maka Kinerja kerja akan naik sebesar 0,445 dengan asumsi variabel
independen lainnya dianggap
konstan. Tanda positif
artinya menunjukkan pengaruh
yang searah antara variabel independen dan variabel dependen.
2. Analisis Koefisien
Korelasi Berganda (r).
Analisis koefisien korelasi dimaksudkan untuk mengetahui tingkat
kekuatan hubungan antara variabel independen terhadap variabel dependen. Hasil pengolahan data sebagai berikut.
Tabel 4.17
Interval Nilai Koefisien Korelasi
|
Interval Nilai Koefisien Korelasi |
Tingkat Hubungan |
|
0,000 – 0,199 |
Sangat Rendah |
|
0,200 – 0,399 |
Rendah |
|
0,400 – 0,599 |
Sedang |
|
0,600 – 0,799 |
Kuat |
|
0,800 – 1,000 |
Sangat kuat |
Sumber: Sugiyono, (2019:184)
Tabel 4.18
Hasil Pengujian Koefisien Korelasi
Secara Simultan Motivasi Kerja (X1) dan Disiplin Kerja (X2) Terhadap Kinerja Pegawai (Y)
|
Model Summaryb |
||||
|
Model |
R |
R Square |
Adjusted R Square |
Std. Error of the Estimate |
|
1 |
,619a |
,383 |
,356 |
3,776 |
|
a.
Predictors: (Constant), Disiplin Kerja, Motivasi Kerja |
||||
|
b.
Dependent Variable: Kinerja Pegawai |
||||
Sumber:
Data diolah, 2023
Berdasarkan pada hasil
pengujian pada Tabel 4.18 di atas, diperoleh
nilai Koefisien korelasi sebesar 0,619 dimana nilai tersebut berada pada interval 0,600 –
0,799 artinya variabel Motivasi Kerja dan Disiplin Kerja dan mempunyai tingkat
hubungan yang Kuat terhadap Kinerja Kerja.
3. Analisis Koefisien Determinasi.
Analisis koefisien determinasi dimaksudkan untuk mengetahui persentase kekuatan pengaruh antara
variabel independen terhadap variabel dependen
baik secara simultan, dalam penelitian ini adalah variabel Motivasi Kerja (X1) dan
Disiplin Kerja (X2) terhadap Kinerja Pegawai (Y). Berikut ini hasil perhitungan
koefisien determinasi yang diolah dengan program
SPSS Versi 26, sebagai berikut.
Tabel 4.19
Hasil Pengujian Koefisien
Determinasi Secara Simultan Motivasi Kerja
(X1) dan Disiplin Kerja (X2) Terhadap Kinerja Pegawai (Y)
|
Model Summaryb |
||||
|
Model |
R |
R Square |
Adjusted R Square |
Std. Error of the Estimate |
|
1 |
,619a |
,383 |
,356 |
3,776 |
|
a.
Predictors: (Constant), Disiplin Kerja, Motivasi Kerja |
||||
|
b.
Dependent Variable: Kinerja Pegawai |
||||
Sumber: Data diolah, 2023
Berdasarkan pada hasil pengujian pada
Tabel 4.19 di atas, diperoleh nilai Koefisien determinasi sebesar 0,383 maka dapat disimpulkan bahwa variabel
Disiplin Kerja dan Motivasi Kerja berpengaruh terhadap variabel Kinerja Pegawai sebesar 38,3% sedangkan sisanya sebesar (100-38,3%) = 61,7% dipengaruhi faktor lain yang tidak dilakukan penelitian.
4. Pengujian Hipotesis.
a. Pengujian Hipotesis Secara Parsial (Uji t).
Pengujian hipotesis variabel Motivasi
Kerja (X1) dan Disiplin Kerja (X2) terhadap Kinerja Pegawai (Y) dilakukan dengan uji t (uji secara parsial). Dalam penelitian ini
digunakan kriteria signifikansi 5% (0,05)
dengan membandingkan antara nilai t hitung
dengan t tabel yaitu sebagai
berikut.
1)
Jika nilai
t hitung <
t tabel : berarti H01 diterima dan Ha1
ditolak.
2)
Jika nilai t hitung > t tabel : berarti H01
ditolak dan Ha1 diterima.
Adapun
untuk menentukan besarnya
nilai t tabel dicari dengan menggunakan rumus sebagai berikut.
ttabel = tα.df (Taraf Alpha x Degree of Freedom)
α = tarif
nyata 5%
df = (n-2),
maka diperoleh (50-2) = 48, maka ttabel = 2,011
Kriteria dikatakan signifikan jika nilai t hitung
> t tabel atau
ρ value <Sig.0,05.
1)
Pengaruh Motivasi Kerja (X1) Terhadap
Kinerja Pegawai (Y).
Menentukan rumusan
hipotesisnya adalah:
H01 : ρ1 = Tidak terdapat
pengaruh yang signifikan Motivasi Kerja terhadap Kinerja
Pegawai Upt Rusunawa Pada Kantor Dinas Perumahan Dan Permukiman Kota
Tangerang.
Ha1 : ρ1 = Terdapat pengaruh
yang signifikan Motivasi Kerja terhadap Kinerja Pegawai Upt Rusunawa Pada Kantor
Dinas Perumahan Dan Permukiman Kota Tangerang.
Adapun
hasil pengolahan data menggunakan program
SPSS Versi 26, dengan hasil sebagai berikut.
Tabel 4.20
Hasil Uji Hipotesis (Uji t)
Variabel Motivasi Kerja (X1) Terhadap Kinerja Pegawai (Y)
|
Coefficientsa |
||||||
|
Model |
Unstandardized Coefficients |
Standardized Coefficients |
T |
Sig. |
||
|
B |
Std. Error |
Beta |
||||
|
1 |
(Constant) |
21.163 |
5.905 |
|
3.584 |
.001 |
|
Motivasi
Kerja |
.494 |
.132 |
.476 |
3.747 |
.000 |
|
|
a.
Dependent Variable: Kinerja Pegawai |
||||||
Sumber: Data diolah, 2023
Berdasarkan pada hasil pengujian pada Tabel 4.20 di atas diperoleh nilai t hitung > t tabel atau
(3,747 > 2,011). Hal tersebut
juga diperkuat dengan nilai ρ value <
Sig.0,05 atau (0,001 < 0,05). Dengan demikian maka H01 ditolak
dan Ha1 diterima,
hal ini menunjukkan bahwa terdapat
pengaruh yang signifikan antara Disiplin Kerja terhadap Kinerja
Pegawai Upt Rusunawa pada kantor dinas perumahan dan permukiman kota
Tangerang.
2)
Pengaruh Disiplin Kerja (X2) Terhadap Kinerja
Pegawai (Y).
Menentukan rumusan
hipotesisnya adalah:
H02 : ρ2 = Tidak terdapat pengaruh
yang signifikan Motivasi
Kerja terhadap Kinerja
Pegawai Upt Rusunawa Pada Kantor Dinas Perumahan Dan Permukiman Kota
Tangerang.
Ha2 : ρ2 = Terdapat pengaruh
yang signifikan Motivasi
Kerja terhadap Kinerja
Pegawai Upt Rusunawa Pada Kantor Dinas Perumahan Dan Permukiman Kota
Tangerang.
Adapun
hasil pengolahan data menggunakan program
SPSS Versi 26, dengan hasil sebagai berikut.
Tabel 4.21
Hasil
Uji Hipotesis (Uji t) Variabel Disiplin Kerja (X2) Terhadap Kinerja Pegawai (Y)
|
Coefficientsa |
||||||
|
Model |
Unstandardized Coefficients |
Standardized Coefficients |
t |
Sig. |
||
|
B |
Std. Error |
Beta |
||||
|
1 |
(Constant) |
18.856 |
4.853 |
|
3.886 |
.000 |
|
Disiplin
Kerja |
.560 |
.111 |
.589 |
5.044 |
.000 |
|
|
a.
Dependent Variable: Kinerja Pegawai |
||||||
Sumber: Data diolah, 2023
Berdasarkan pada hasil pengujian pada Tabel 4.21 di atas diperoleh nilai t hitung > t tabel atau
(5,044 > 2,011). Hal tersebut juga diperkuat dengan nilai ρ value < Sig.0,05 atau (0,000 < 0,05). Dengan demikian maka H02 ditolak
dan Ha2 diterima,
hal ini menunjukkan bahwa terdapat
pengaruh yang signifikan antara Disiplin Kerja terhadap Kinerja
Pegawai Upt Rusunawa pada kantor dinas perumahan dan permukiman kota
Tangerang.
b.
Pengujian Hipotesis Secara
Simultan (Uji F).
Untuk pengujian pengaruh variabel
Disiplin Kerja dan Motivasi Kerja
secara simultan terhadap Kinerja Pegawai dilakukan dengan uji statistik F (uji simultan) dengan
signifikansi 5%. Dalam penelitian ini digunakan
kriteria signifikansi 5% (0,05) yaitu membandingkan antara nilai F hitung dengan F tabel dengan ketentuan sebagai berikut.
1)
Jika nilai
F hitung <
F tabel: berarti
H01 diterima dan Ha3
ditolak.
2)
Jika nilai F hitung
> F tabel: berarti
H01 ditolak dan Ha3 diterima.
Untuk menentukan besarnya Ftabel dicari dengan
ketentuan df = (n-k-1), maka ,diperoleh (50-2-1) = 47, jadi Ftabel = 3,200
Kriteria dikatakan signifikan jika nilai F hitung > F tabel atau
ρ
value < Sig.0,05.
Rumusan hipotesisnya adalah sebagai berikut.
H03 : ρ1,3 = Tidak
terdapat pengaruh yang signifikan secara simultan Disiplin Kerja dan Motivasi Kerja terhadap Kinerja
Pegawai Upt Rusunawa Pada Kantor Dinas
Perumahan Dan Permukiman Kota Tangerang.
Ha3 : ρ1,3 = Terdapat pengaruh
yang signifikan secara
simultan Disiplin Kerja dan Motivasi
Kerja terhadap Kinerja
Pegawai Upt Rusunawa Pada Kantor Dinas Perumahan Dan Permukiman Kota
Tangerang.
Tabel 4.22
Hasil
Hipotesis (Uji F) Secara Simultan Motivasi Kerja (X1) dan Disiplin Kerja
(X2) Terhadap Kinerja Pegawai (Y)
|
ANOVAa |
||||||
|
Model |
Sum of Squares |
Df |
Mean Square |
F |
Sig. |
|
|
1 |
Regression |
415.259 |
2 |
207.629 |
14.562 |
.000b |
|
Residual |
670.121 |
47 |
14.258 |
|
|
|
|
Total |
1085.380 |
49 |
|
|
|
|
|
a.
Dependent Variable: Kinerja Pegawai |
||||||
|
b.
Predictors: (Constant), Disiplin Kerja, Motivasi Kerja |
||||||
Sumber: Data diolah, 2023
Berdasarkan pada hasil pengujian
pada Tabel 4.22 di atas diperoleh nilai F hitung > F tabel
atau (14,562 > 3,200), hal ini juga
diperkuat dengan ρ value
< Sig.0,05 atau (0,000 < 0,05). Dengan demikian
maka H03 ditolak dan Ha3 diterima,
hal ini menunjukkan bahwa terdapat
pengaruh yang signifikan secara simultan antara Motivasi Kerja dan Disiplin Kerja terhadap Kinerja Pegawai Upt Rusunawa pada kantor dinas
perumahan dan permukiman kota Tangerang .
4.3
Pembahasan Hasil
Penelitian
4.3.1
Pengaruh Motivasi Kerja (X1) Terhadap
Kinerja Pegawai (Y)
Berdasarkan hasil analisis. uji hipotesis
diperoleh nilai t hitung > t tabel atau
(3,747 > 2,011). Hal tersebut juga diperkuat dengan
nilai ρ value <
Sig.0,05 atau (0,001 < 0,05), Dengan demikian
H01 ditolak dan Ha1 diterima artinya terdapat
pengaruh yang signifikan antara Motivasi Kerja
terhadap Kinerja Pegawai UPT Rusunawa Pada Dinas Perumahan Dan Permukiman
Kota Tangerang.
4.3.2
Pengaruh
Disiplin Kerja (X2) Terhadap Kinerja
Pegawai (Y).
Berdasarkan hasil analisis. uji hipotesis diperoleh nilai t hitung
> t tabel atau (5,044 > 2,011). Hal tersebut juga
diperkuat dengan nilai ρ value < Sig.0,05 atau (0,000 < 0,05) Dengan demikian
H02 ditolak dan Ha2 diterima artinya terdapat pengaruh
yang signifikan antara Disiplin Kerja terhadap
Kinerja Pegawai UPT Rusunawa Pada Dinas Perumahan Dan Permukiman Kota Tangerang.
4.3.3
Pengaruh Motivasi Kerja (X1)
Dan Disiplin Kerja (X2) Terhadap Kinerja Pegawai (Y).
Berdasarkan hasil penelitian,
menunjukkan bahwa Motivasi Kerja (X1) Dan Disiplin
Kerja (X2) terhadap
Kinerja Pegawai (Y) dengan diperoleh
persamaan regresi Y = 13,418+0,234+0,445. Nilai
koefisien korelasi berganda atau tingkat hubungan
antara variabel bebas dengan variabel terikat diperoleh sebesar 0,619 artinya memiliki
hubungan yang Kuat. Nilai koefisien
determinasi atau kontribusi pengaruhnya secara simutan sebesar
38,3% sedangkan sisanya sebesar (100-38,3%) = 61,7% dipengaruhi
faktor lain.Uji hipotesis diperoleh nilai F hitung > Ftabel atau (14,562 > 3,200). Dengan demikian
H03 ditolak dan Ha3 diterima.
Artinya terdapat pengaruh yang signifikan secara simultan Motivasi Kerja
dan Disiplin Kerja terhadap
Kinerja Pegawai Upt Rusunawa
pada kantor dinas perumahan dan permukiman kota Tangerang.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Kesimpulan hasil Penelitian Pengaruh
Motivasi Kerja dan Disiplin Kerja terhadap
Kinerja Pegawai UPT Rusunawa
Pada Dinas Perumahan Dan Permukiman Kota Tangerang. Berupa
analisis data dari pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat di tarik kesimpulan sebagai berikut.
1. Berdasarkan hasil analisis. uji hipotesis diperoleh nilai
t
hitung > t tabel atau
(3,747 > 2,011). Hal tersebut juga diperkuat dengan
nilai ρ value <
Sig.0,05 atau (0,001 < 0,05), Dengan demikian
H01 ditolak dan Ha1 diterima artinya terdapat
pengaruh yang signifikan antara Motivasi Kerja
terhadap Kinerja Pegawai UPT Rusunawa Pada Dinas Perumahan Dan Permukiman
Kota Tangerang.
2. Berdasarkan hasil analisis.
uji hipotesis diperoleh nilai t hitung > t tabel atau (5,044 > 2,011). Hal tersebut juga diperkuat dengan nilai ρ value < Sig.0,05 atau (0,000 < 0,05) Dengan demikian
H02 ditolak dan Ha2 diterima artinya terdapat pengaruh
yang signifikan antara Disiplin Kerja terhadap
Kinerja Pegawai UPT Rusunawa Pada Dinas Perumahan Dan Permukiman Kota Tangerang.
3. Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa Motivasi Kerja (X1) dan Disiplin Kerja (X2) terhadap
Kinerja Pegawai (Y) dengan
diperoleh persamaan regresi Y = 13,418+0,234+0,445. Nilai
koefisien korelasi atau tingkat hubungan
antara variabel bebas dengan variabel terikat diperoleh sebesar 0,619 artinya memiliki
hubungan yang Kuat. Nilai koefisien
determinasi atau kontribusi pengaruhnya secara simutan sebesar
38,3% sedangkan sisanya sebesar (100-38,3%) = 61,7% dipengaruhi faktor lain. uji hipotesis
diperoleh nilai F hitung > Ftabel atau
(14,562 > 3,200). hal ini juga
diperkuat dengan ρ value<Sig.0,05 atau (0,000 < 0,05). Dengan demikian H03 ditolak dan Ha3 diterima. Artinya terdapat pengaruh yang signifikan
secara simultan Motivasi Kerja dan Disiplin Kerja terhadap
Kinerja Pegawai UPT Rusunawa Pada Dinas Perumahan Dan
Permukiman Kota Tangerang.
5.2 Keterbatasan
Penelitian
Penelitian ini diusahakan dan dilaksanakan sesuai dengan prosedur ilmiah,
namun demikian masih memiliki
keterbatasan yaitu:
1.
Faktor-faktor yang memengaruhi
Kinerja Pegawai dalam penelitian ini hanya terdiri
dari dua variabel, yaitu Motivasi dan Disiplin Kerja, sedangkan masih banyak
faktor lain yang memengaruhi Kinerja pegawai THL
UPT Rusunawa Pada Kantor Dinas Perumahan Dan Permukiman Kota Tangerang.
2.
Adanya keterbatasan penelitian dengan menggunakan kuisioner
yaitu terkadang jawaban yang diberikan oleh sampel tidak menunjukkan
keadaan sebenarnya.
5.3 Saran
Penelitian
ini memiliki beberapa saran yang dapat menjadikan pertimbangan bagi penelitian
selanjutnya, antara lain:
1. Berdasarkan analisis yang dilakukan dalam penelitian dan hasil kesimpulan yang telah dikemukakan sebelumnya, maka penulis
akan mengemukakan beberapa
saran yang kiranya
dapat bermanfaat dan sebagai masukan untuk Pegawai THL UPT Rusunawa Pada
Dinas Perumahan Dan Permukiman Kota Tangerang. Untuk dapat
mempertahankan dan meningkatkan
keputusan pembelian maka penulis akan memberikan saran sebagai berikut.
1.
Motivasi
Indikator yang paling rendah dari variabel
motivasi (X1) adalah yaitu Indikator Budaya kekeluargaan ditempat
saya bekerja membuat saya merasa nyaman dalam bekerja Tujuan yang mana hanya
mencapai score sebesar 4,16. Maka dari itu peneliti
menyarankan Kantor kedepanya harus lebih memperhatikan budaya
kerja agar pegawai tetap bekerja dengan baik dan nyaman.
2.
Disiplin Kerja
Dari
variabel disiplin kerja (X2) yang mempunyai indikator
yang paling rendah ada pada indikator Saya selau
menawarkan bantuan pekerjaan jika atasan terlihat membutuhkan bantuan yaitu
sebesar 4,24. Dalam hal Pekerjaan harus di tingkatkan lagi agar
dengan adanya bantuan atau kerjasama baik individu maupun team pekerjaan pun
cepat selesai dengan efesien.
3.
Kinerja Pegawai
Dari variabel kinerja Pegawai (Y)
yang mempunyai indikator yang paling rendah
ada pada indikator saya sangat kurang dalam menyelesaikan pekerjaan dengan ouput
yang baik yaitu sebesar 3,94. Dalam hal ini pegawai harus lebih baik lagi dalam menyelesaikan
tugas-tugas yang diberikan dari pimpinan sesuai dengan tugas yang sudah
ditentukan.
Komentar
Posting Komentar